mulyatman

Thursday, September 14, 2006

Liontin (cerpen 2006)

“Tuh kan bener, kamu pasti Iyang.”
“Bim, ke mana aja sih?”
“Eit, nggak salah? Kamu yang ke mana aja?”
Pertemuan ini sungguh mengagetkan. Surprise!
Menjelang petang, aku naik bis yang penuh nostalgia ini dengan tergesa-gesa. Suasana ibukota memang sering membuatku bingung. Meski Bis PPD 43 ini jelas-jelas di papan trayeknya ditulis, Cililitan-Tanjung Priok PP, tapi sering memutar di belokan Halim. Jadinya, aku harus jogging dulu dari UKI Cawang ke halte Halim.
Mumpung masih banyak waktu? Bisa juga. Tapi yang jelas aku sedang terlempar ke masa lalu. Masa SMU ketika Jakarta menjadi tempat tinggalku. Karena itu hampir setiap ke Jakarta aku selalu menyempatkan naik bis ini.
Aku naik dari pintu depan. Sebenarnya, tak perlu memilih tempat duduk karena bis yang ngetem ini masih kosong. Tapi, kursi yang kumaksud ternyata sudah terisi. Kulirik penghuni kursi itu, eh, dia malah nyengir bajing.
Tak salah lagi, gadis yang duduk di deretan kursi belakang pas dekat tangga itu kamu, Dian Mayang Sari. Gadis yang biasa kupanggil Iyang, kependekan dari sayang. Karena aku hapal benar gerak-geriknya. Saat dia merapikan anak rambutnya yang diterpa angin, saat dia membetulkan kacamata minusnya. Dan saat dia nyengir bajing.
“Kamu masih setia dengan bandul di kalungmu itu,” tanyaku.
“Dan yang di dalamnya,” jawab Iyang menunjuk dada.
Ah, mungkin terlalu cepat aku memutar pita album rekaman. Aku menyesal, kenapa aku justru yang membuka luka lama ini. Kenapa aku harus menyinggungnya. Padahal liontin di kalung itulah yang memisahkan kita.
Selanjutnya, kami tenggelam dalam nostalgia cinta anak SMU. Saat itu aku sekolah di SMU 30 dan Iyang di SMU 31. Kami bertemu di bis ini. Rumahku di Prumpung dan rumah Iyang di dekat Kali Malang. Dia suka naik bis ini, turun di Pramuka untuk nyambung bis lain. Karena itu aku sering memintanya duduk di kursi paling belakang supaya bisa melihatnya. Agar kami bisa berangkat bareng. Kadang aku duduk di sampingnya, tapi lebih sering berdiri di tangga. Tak apa yang penting aku bisa bareng.
“Jadi Iyang sudah lama ada di Jakarta?” Aduh, kenapa aku harus memanggilnya Iyang.
“Iya, sekarang aku sudah sarjana he he he,” katanya memecah kecanggungan.
Aku tertawa.
“Kamu agak canggung tuh manggilnya.”
Aku tertawa lagi.
“Bim, baru datang dari Yogya kan?”
Secara fisik cewek ini sempurna. Tapi, inilah kekurangannya, Dian memang tak pernah lengkap memanggil namaku. Selalu kurang A.
“He-eh!” jawabku.
“Apa akan Bim habiskan liburan di Jakarta?”
“Nggak! aku ga libur, aku ngejar narasumber ke Tanjung Priok. Dia hanya mau diwawancarai sama aku!”
“Kok naik bis ini?”
“Aku rasa kamu juga sanggup bayar taksi, kenapa naik bis ini? Pasti jawabannya akan sama. Iya kan?” aku balik tanya.
Kulihat Dian tersenyum. Tapi, sebersit kekecewaan juga sempat aku tangkap. Pilihan profesi menjadi jurnalis inilah yang membuat kami sering ribut. Sering malam minggunya menjadi kosong. Karena sejak selepas semester tiga kuliah, aku langsung teken kontrak mati untuk menjadi jurnalis. Karena itu—akibat tekanan deadline—aku suka lupa pada sekelilingku. Termasuk malam minggu yang seharusnya menjadi milik kami. Meski demikian kuliahku tetap beres. Keputusanku untuk menjadi koresponden di tanah kelahiranku, Yogya, semakin membuat hubungan kami tidak jelas.
Tapi, persoalan yang utama adalah masalah kalung tadi. Kalung itu dengan sukses telah memisahkan hubungan kami.
Pita rekaman itu terus berputar kencang. Kami jadi terseret pada lingkaran nostalgia. Ah, bis ini memang penuh dengan nostalgia. Sekaligus nostalgila. Gila, kenapa aku memilih berpanas-panas dengan bis ini. Serasa di oven!
“Yogya memang kota bersejarah yang penuh kenangan, tapi lebih indah lagi bis ini,” ujarku.
“Ya, khususnya bagi kita.”
Bis Mulai jalan.
“Kamu kenal Mira?”
“Iya, gadis jilbab yang suka naik bis ini juga?”
“Dia sudah menikah dengan Iyos, kakak kelasku.”
“Iyos, Joshua? Yang pernah ribut denganku.”
“Siapa lagi?”
“Jadi....”
“Nggak. Iyos masuk Islam, tapi ga tahu deh sekarang, aku kehilangan kontak ama mereka.”
Kami saling pandang. Lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Entah apa arti pandangan kami kali ini. Masing-masing mencoba mengartikan sendiri.
Tiga tahun lebih kami tidak berjumpa. Plus aktivitas di Lembaga Dakwah. Aku kira itu waktu yang cukup untuk melupakanmu. Tapi nyatanya, tidak. Cinta pertamakah ini? Ah, kenapa jadi sentimentil begini?
Seandainya masing-masing tidak keras kepala tentu perpisahan tidak akan terjadi. Atau salah satu dari kami mau berubah, tentu perjalanan hidup akan berubah total. Seandainya....ah, tidak! Aku bersyukur dengan segala yang kumiliki.
“Aku berdiri ya,” ucapku sambil memonyongkan bibir ke arah seorang ibu. Iyang mengerti maksudku.
“Eh, Ikut aku ke Plaza Arion dulu, mau ga?” pintanya.
“Ngapain?”
“Salah sendiri, dari tadi kamu belum tanya, aku mau ke mana?”
“Eh afwan!”
“Apa bakwan?”
“Sori-sori, kamu emangnya mo ke mana.”
“Aku buka counter studio di dekat Plaza Arion.”
“Eh ya, aku belum sempet terima kasih.”
“For what?”
“Iyang...aku tak akan pernah lupa, kamulah guru fotografiku.”
“Norak!”
Suasana akrab kembali tercipta.
Kulirik Nokia di genggaman tangan kiriku, angka digital di HP menunjukkan 11.15. Kutimbang-timbang, memang masih ada waktu. Janjiku dengan narasumber, masih dua jam lagi. “Tapi kenapa harus belok, Bim? Kamu kan harusnya lurus,” tanya hati kecilku.
“Ng...”
Tapi, Dian sudah bangkit dan bergegas menarik tasku. Kami bersegera turun dari bis yang mulai sumpek. Bis merambat pelan di lampu merah perempatan Pemuda. Niat Ibu itu untuk menggantikan posisiku terhalang seorang pemuda.

“Brengsek!” berbarengan dengan itu, tinjuku yang berat beberapa kali melayang ke wajah berandalan yang mencoba memasukan tangannya ke kerah baju Dian dari belakang.
Preman itu mengincar kalungnya. Tapi, komplotan copet yang kerap meresahkan warga Jakarta itu tak jera meski kawannya sudah kuhabisi. Gerombolan itu membuat kegaduhan, sumpah serapah dan ancaman meluncur deras dari mulut mereka. Lebih dari lima orang kawanan pencopet segera membuat formasi mengepung kami. Salah seorang memainkan sinar yang memantul dari belatinya.
Tapi, sesuai dengan namaku yang diambil dari tokoh pewayangan. Aku, memiliki badan tinggi besar. Aku tak gentar meski dikepung sepuluh orang. Kecemasan penumpang kuanggap sebagai aplaus dari penonon di tribun. Hanya sekejap. Kawanan itu sudah kubuat kalang kabut. Sebagai pemilik sabuk hitam aku terlalu perkasa bagi mereka. Aku menarik nafas, untuk menutup ‘makan’ siangku.
“God job, Bim. Masih rajin latihan ya. Eh, keril kamu sobek Bim!” Dian menghujani aku dengan kata-katanya. Kecemasan jelas terpeta di wajahnya.
Tapi, usaha Dian membetulkan tasku malah membuat isinya berantakan. Sebuah buku terjatuh.
Reflek aku memungut buku, Dialog Rasional Islam-Kristen yang jatuh dari tasnya.
Untuk kedua kalinya kami saling pandang.
Gambar* di buku itu sama dengan liontin di dada Dian. Hanya warnanya yang berbeda. Di buku itu berwarna hitam sedangkan liontin itu emas murni. Seakan ada energi yang masuk ke dalam tubuhku. Aku menolak tarikan tangan Dian.
Ya, Dian aku memang tetap Bima yang dulu. Aku pemilik tinggi badan 1,80 Masih rajin latihan beladiri. Dan kini aku merasa lebih perkasa karena rajin ngaji pekanan. Jadi tak boleh takluk hanya karena rayuan wanita.
Maafkan aku Tuhan. Aku rasa keakraban ini memang berlebihan. Dan harus dihentikan. Aku berlalu tanpa menoleh. Aku meneruskan perjalanan yang sempat tertunda. Jalan lurus yang aku tempuh.

For: Ayu di Secang

*Gambar yang dimaksud adalah gambar salib

0 Comments:

Post a Comment

<< Home