mulyatman

Thursday, September 14, 2006

Liontin (cerpen 2006)

“Tuh kan bener, kamu pasti Iyang.”
“Bim, ke mana aja sih?”
“Eit, nggak salah? Kamu yang ke mana aja?”
Pertemuan ini sungguh mengagetkan. Surprise!
Menjelang petang, aku naik bis yang penuh nostalgia ini dengan tergesa-gesa. Suasana ibukota memang sering membuatku bingung. Meski Bis PPD 43 ini jelas-jelas di papan trayeknya ditulis, Cililitan-Tanjung Priok PP, tapi sering memutar di belokan Halim. Jadinya, aku harus jogging dulu dari UKI Cawang ke halte Halim.
Mumpung masih banyak waktu? Bisa juga. Tapi yang jelas aku sedang terlempar ke masa lalu. Masa SMU ketika Jakarta menjadi tempat tinggalku. Karena itu hampir setiap ke Jakarta aku selalu menyempatkan naik bis ini.
Aku naik dari pintu depan. Sebenarnya, tak perlu memilih tempat duduk karena bis yang ngetem ini masih kosong. Tapi, kursi yang kumaksud ternyata sudah terisi. Kulirik penghuni kursi itu, eh, dia malah nyengir bajing.
Tak salah lagi, gadis yang duduk di deretan kursi belakang pas dekat tangga itu kamu, Dian Mayang Sari. Gadis yang biasa kupanggil Iyang, kependekan dari sayang. Karena aku hapal benar gerak-geriknya. Saat dia merapikan anak rambutnya yang diterpa angin, saat dia membetulkan kacamata minusnya. Dan saat dia nyengir bajing.
“Kamu masih setia dengan bandul di kalungmu itu,” tanyaku.
“Dan yang di dalamnya,” jawab Iyang menunjuk dada.
Ah, mungkin terlalu cepat aku memutar pita album rekaman. Aku menyesal, kenapa aku justru yang membuka luka lama ini. Kenapa aku harus menyinggungnya. Padahal liontin di kalung itulah yang memisahkan kita.
Selanjutnya, kami tenggelam dalam nostalgia cinta anak SMU. Saat itu aku sekolah di SMU 30 dan Iyang di SMU 31. Kami bertemu di bis ini. Rumahku di Prumpung dan rumah Iyang di dekat Kali Malang. Dia suka naik bis ini, turun di Pramuka untuk nyambung bis lain. Karena itu aku sering memintanya duduk di kursi paling belakang supaya bisa melihatnya. Agar kami bisa berangkat bareng. Kadang aku duduk di sampingnya, tapi lebih sering berdiri di tangga. Tak apa yang penting aku bisa bareng.
“Jadi Iyang sudah lama ada di Jakarta?” Aduh, kenapa aku harus memanggilnya Iyang.
“Iya, sekarang aku sudah sarjana he he he,” katanya memecah kecanggungan.
Aku tertawa.
“Kamu agak canggung tuh manggilnya.”
Aku tertawa lagi.
“Bim, baru datang dari Yogya kan?”
Secara fisik cewek ini sempurna. Tapi, inilah kekurangannya, Dian memang tak pernah lengkap memanggil namaku. Selalu kurang A.
“He-eh!” jawabku.
“Apa akan Bim habiskan liburan di Jakarta?”
“Nggak! aku ga libur, aku ngejar narasumber ke Tanjung Priok. Dia hanya mau diwawancarai sama aku!”
“Kok naik bis ini?”
“Aku rasa kamu juga sanggup bayar taksi, kenapa naik bis ini? Pasti jawabannya akan sama. Iya kan?” aku balik tanya.
Kulihat Dian tersenyum. Tapi, sebersit kekecewaan juga sempat aku tangkap. Pilihan profesi menjadi jurnalis inilah yang membuat kami sering ribut. Sering malam minggunya menjadi kosong. Karena sejak selepas semester tiga kuliah, aku langsung teken kontrak mati untuk menjadi jurnalis. Karena itu—akibat tekanan deadline—aku suka lupa pada sekelilingku. Termasuk malam minggu yang seharusnya menjadi milik kami. Meski demikian kuliahku tetap beres. Keputusanku untuk menjadi koresponden di tanah kelahiranku, Yogya, semakin membuat hubungan kami tidak jelas.
Tapi, persoalan yang utama adalah masalah kalung tadi. Kalung itu dengan sukses telah memisahkan hubungan kami.
Pita rekaman itu terus berputar kencang. Kami jadi terseret pada lingkaran nostalgia. Ah, bis ini memang penuh dengan nostalgia. Sekaligus nostalgila. Gila, kenapa aku memilih berpanas-panas dengan bis ini. Serasa di oven!
“Yogya memang kota bersejarah yang penuh kenangan, tapi lebih indah lagi bis ini,” ujarku.
“Ya, khususnya bagi kita.”
Bis Mulai jalan.
“Kamu kenal Mira?”
“Iya, gadis jilbab yang suka naik bis ini juga?”
“Dia sudah menikah dengan Iyos, kakak kelasku.”
“Iyos, Joshua? Yang pernah ribut denganku.”
“Siapa lagi?”
“Jadi....”
“Nggak. Iyos masuk Islam, tapi ga tahu deh sekarang, aku kehilangan kontak ama mereka.”
Kami saling pandang. Lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Entah apa arti pandangan kami kali ini. Masing-masing mencoba mengartikan sendiri.
Tiga tahun lebih kami tidak berjumpa. Plus aktivitas di Lembaga Dakwah. Aku kira itu waktu yang cukup untuk melupakanmu. Tapi nyatanya, tidak. Cinta pertamakah ini? Ah, kenapa jadi sentimentil begini?
Seandainya masing-masing tidak keras kepala tentu perpisahan tidak akan terjadi. Atau salah satu dari kami mau berubah, tentu perjalanan hidup akan berubah total. Seandainya....ah, tidak! Aku bersyukur dengan segala yang kumiliki.
“Aku berdiri ya,” ucapku sambil memonyongkan bibir ke arah seorang ibu. Iyang mengerti maksudku.
“Eh, Ikut aku ke Plaza Arion dulu, mau ga?” pintanya.
“Ngapain?”
“Salah sendiri, dari tadi kamu belum tanya, aku mau ke mana?”
“Eh afwan!”
“Apa bakwan?”
“Sori-sori, kamu emangnya mo ke mana.”
“Aku buka counter studio di dekat Plaza Arion.”
“Eh ya, aku belum sempet terima kasih.”
“For what?”
“Iyang...aku tak akan pernah lupa, kamulah guru fotografiku.”
“Norak!”
Suasana akrab kembali tercipta.
Kulirik Nokia di genggaman tangan kiriku, angka digital di HP menunjukkan 11.15. Kutimbang-timbang, memang masih ada waktu. Janjiku dengan narasumber, masih dua jam lagi. “Tapi kenapa harus belok, Bim? Kamu kan harusnya lurus,” tanya hati kecilku.
“Ng...”
Tapi, Dian sudah bangkit dan bergegas menarik tasku. Kami bersegera turun dari bis yang mulai sumpek. Bis merambat pelan di lampu merah perempatan Pemuda. Niat Ibu itu untuk menggantikan posisiku terhalang seorang pemuda.

“Brengsek!” berbarengan dengan itu, tinjuku yang berat beberapa kali melayang ke wajah berandalan yang mencoba memasukan tangannya ke kerah baju Dian dari belakang.
Preman itu mengincar kalungnya. Tapi, komplotan copet yang kerap meresahkan warga Jakarta itu tak jera meski kawannya sudah kuhabisi. Gerombolan itu membuat kegaduhan, sumpah serapah dan ancaman meluncur deras dari mulut mereka. Lebih dari lima orang kawanan pencopet segera membuat formasi mengepung kami. Salah seorang memainkan sinar yang memantul dari belatinya.
Tapi, sesuai dengan namaku yang diambil dari tokoh pewayangan. Aku, memiliki badan tinggi besar. Aku tak gentar meski dikepung sepuluh orang. Kecemasan penumpang kuanggap sebagai aplaus dari penonon di tribun. Hanya sekejap. Kawanan itu sudah kubuat kalang kabut. Sebagai pemilik sabuk hitam aku terlalu perkasa bagi mereka. Aku menarik nafas, untuk menutup ‘makan’ siangku.
“God job, Bim. Masih rajin latihan ya. Eh, keril kamu sobek Bim!” Dian menghujani aku dengan kata-katanya. Kecemasan jelas terpeta di wajahnya.
Tapi, usaha Dian membetulkan tasku malah membuat isinya berantakan. Sebuah buku terjatuh.
Reflek aku memungut buku, Dialog Rasional Islam-Kristen yang jatuh dari tasnya.
Untuk kedua kalinya kami saling pandang.
Gambar* di buku itu sama dengan liontin di dada Dian. Hanya warnanya yang berbeda. Di buku itu berwarna hitam sedangkan liontin itu emas murni. Seakan ada energi yang masuk ke dalam tubuhku. Aku menolak tarikan tangan Dian.
Ya, Dian aku memang tetap Bima yang dulu. Aku pemilik tinggi badan 1,80 Masih rajin latihan beladiri. Dan kini aku merasa lebih perkasa karena rajin ngaji pekanan. Jadi tak boleh takluk hanya karena rayuan wanita.
Maafkan aku Tuhan. Aku rasa keakraban ini memang berlebihan. Dan harus dihentikan. Aku berlalu tanpa menoleh. Aku meneruskan perjalanan yang sempat tertunda. Jalan lurus yang aku tempuh.

For: Ayu di Secang

*Gambar yang dimaksud adalah gambar salib

Amplop Coklat (cerpen 1989)

Sepucuk surat tergeletak di mejaku dengan sebuah pesan tertulis di atasnya. Kubaca pesan singkat di post it, itu: Investigasi, siapa sebenarnya yang mengacau jalur distribusi sembako? Saya tunggu laporannya? Segera kubuka surat itu dan kusimak isinya. Pengirim surat itu, sebuah badan yang mengurus jalur distribusi sembako, mengundang sejumlah wartawan untuk meliput inspeksi.

Huh, kerjaan lagi, keluhku dalam hati. Kulirik arlojiku. Hampir pukul delapan malam. Segera kubenahi kertas-kertas yang berserakan di bawah meja. Lalu kuhidupkan komputer. Kuambil earphone dari laci. Setelah benda itu kurasa pas terpasang di telingaku, aku mulai mengetik hasil wawancara yang terekam dalam tape.

Dua jam kemudian aku sudah berada di jalan raya. Mumpung jalan sepi, kupacu motor ku lebih cepat. Sampai di rumah, kuceritakan tugas baru dari Pemimpin Redaksi itu pada Fitri, istriku.
“Katanya Mas redaktur budaya. Kok jadi ngurusi sembako segala, sih?” protes istriku.
“Yah, itung-itung cari pengalaman baru,” jawabku berdalih.
“Tapi Mas-kan ndak berbakat jadi wartawan. Wartawan kok gugupan gitu?”
“Ini kesempatan, Dik. Mas cuma disuruh ikut perjalanan inspeksi itu dan menuliskan apa yang Mas liat. Itu saja.”
“Terserah Mas sajalah kalau gitu,” cemberut istriku.
“Cuma tiga hari. Uang jalannya itu, lho. Lumayan,” kataku bercanda. Istriku tersenyum simpul.
“Tapi ngati-ati lho, Mas. Aku lebih memilih kelaparan daripada kemasukan duit haram. Ingat Mas, aku sedang hamil,” kata istriku sambil mengelus perutnya yang membuncit.
Aku pun mengiyakan.

* * *

Sebagai redaktur budaya, aku bisa dikatakan terhindar dari hingar-bingar dunia politik. Tapi gelombang keterbukaan di era reformasi ini cukup mengganggu konsentrasiku pada rubrik yang kugawangi. Aku iri pada rekan-rekanku yang selalu membawa isu hangat. Dan yang namanya gosip atau rumor politik itu selalu menggelitik telingaku. Tapi, sungguh aku tidak ingin terlibat terlalu jauh, karena pekerjaanku sendiri sudah cukup banyak. Sudah menyita sekian besar waktuku. Tapi pesan dari pemred itu tidak bisa kubantah.
Tibalah hari bersejarah itu. Aku dan beberapa rekan wartawan dari media lain ditempatkan dalam satu bis. Sedangkan para pejabat ada di bis lain. Setelah segala sesuatunya beres, kami segera meluncur ke tempat tujuan, Bandara.
Sidak (inspeksi mendadak) dimulai dari sebuah pabrik gula.
Enaknya jalan bareng Menteri, segala keperluan kami sudah disiapkan sedemikian rupa. Mulai dari press release sampai data. Jadi, kami tidak perlu repot-repot lagi mengejar sumber berita. Benar-benar wisata sambil kerja. Hanya sayangnya waktu untuk kami sedemikian ketat diatur. Wah begini yang namanya investigasi? Enak kali!
Pada malam ketiga aku keluar dari penginapan lantaran bosan dengan suasana. Kulangkahkan kakiku ke sebuah bangunan yang agak terpencil. Tiba-tiba kudengar suara orang-orang yang sedang berbicara. Yang mengejutkan, aku mendengar suara yang begitu kukenal. Suara pejabat yang memberikan penjelasan tadi sore! Naluri kewartawananku segera bekerja. Aku menguping pembicaraan itu dari tempat yang agak tersembunyi.
“Alaaa, si Babah Goh itu memang terlalu serakah. Jadinya kita semua yang kena getahnya!”
“Sialan betul dia. Sudah nggak bagi-bagi rejeki. Mau cuci tangan lagi.”
“Tapi lu kan kebagian juga, Bun.”
“Aaah, semua juga kebagian! Sekalang masalahnya kan banyak olang plotes! Dasal lefolmasi sialan!”
Kusimak pembicaraan itu dengan perasaan dag-dig-dug. Lalu tiba-tiba suara-suara itu lenyap dan dua orang bertampang keras bergegas ke arahku. Selanjutnya kejadian berlangsung begitu cepat. Aku tak mampu merekamnya dalam benakku. Mereka mencekal leher bajuku dan menggelandang aku masuk ke sebuah ruangan.
Di ruangan seluas 4 X 6 meter itu aku diinterogasi. Sungguh, aku benar-benar ketakutan! Tapi segera kusadari kalau mereka tidak akan berbuat macam-macam padaku. Apa jadinya kalau ada seorang wartawan yang resmi diundang lenyap di tempat kejadian?
“Apa yang elu dengar tadi!” sergah salah seorang dari mereka dengan galak. “Ayo ngomong! Jangan kaya ayam sayur begitu!”
“Sssaya, saya...”
Uh, lidahku terasa kaku. Diperlakukan kasar begitu, rasa gugupku langsung kumat. Dalam hati aku mengeluh. Kenapa tidak Munif saja yang dikirim ke sini? Rekanku itu bertubuh tinggi besar. Lagi pula inikan bidangnya, politik. Ia tentu tidak akan segugup dan setakut aku.
“Heh, dengar! Anda telah lancang menguping pembicaraan kami. Kalau kami mau, Anda sudah kami hajar!”
Aku langsung mengkeret melihat tampang seram itu.
“Dengar! Apapun yang elu dengar tadi, Anda harus menutupnya rapat-rapat. Kalau tidak, nyawa lu jadi taruhan!”
Sungguh, ingin rasanya aku melawan. Tapi aku tidak bisa melawan. Aku tidak bisa melawan kegugupanku sendiri. Hhh, istriku ternyata benar. Aku memang terlalu penggugup untuk menjadi seorang wartawan.
Orang yang membentakku mendadak tersenyum. Ia melambaikan tangannya kepada temannya yang mengenakan pakaian hitam-hitam. Laki-laki itu keluar. Sesaat kemudian ia muncul lagi dan menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.
“Nih!” sang interogator melempar amplop itu di depan mukaku. “Ambil uang itu dan tutup mulut!”
Diperlakukan begitu aku menjadi marah dan keberanianku bangkit.
“Anda boleh mengancam saya. Tapi jangan harap saya mau menerima uang itu!” sergahku.
Laki-laki itu menaruh kelima jari kanannya di perutku, kres-kres, dia meremas isu perutku. Mual. Hebat sungguh suatu seni cara menyiksa yang hebat. Tak berbekas. Tapi sakitnya, ampun! Ususku dibuat kusut, amburadul.
“Ingat! Anda akan lebih menderita bila melawan! Ambil uang itu! Kalau nama mereka sampai muncul di majalah Anda, Anda akan tahu akibatnya!”
Aku terhenyak. Ketika kedua orang itu meninggalkan aku sendirian, aku masih terduduk lunglai. Perbuatan laki-laki itu seperti memuntahkan isi perutku.

* * *
Dua bulan kemudian, di ruang rapat redaksi.
“Oke saudara-saudara, kira-kira isu apa yang menarik sekarang ini?” tanya Pemred.
“Ada isu korupsi dan manipulasi di sebuah instansi. Menurut sumber yang saya tembus, direkturnya akan segera dicopot. Bagaimana kalau itu saja yang kita gali?” usul Fauzan.
“Tapi hati-hati, lho. Kabarnya KKN itu juga sudah menggerogoti dunia pers,” sela Munif.
Ucapan Munif langsung memanaskan suasana rapat. Sementara aku hanya bisa terpaku. Keringat dingin membasah. Aku gelisah antara mengharap pembelaan dan pengkhianatan. Segera kuingat uang di amplop itu. Uang itu sudah ludes untuk membiayai operasi caesar istriku.

1989

Hangus (cerpen 2000)

Masjid Istiqomah, begitu nama masjid jami di komplekku. Letaknya tak jauh, hanya beberapa meter saja dari halaman rumahku. Aku senang tinggal disini. Terutama karena dekat dengan masjid. Alhamdulillah, aku merasa terpanggil untuk memakmurkan masjid Al-Istiqomah.
“Mas Yusuf, katanya masjid kita mau direhab ya?” tanyaku pada mas Yusuf, dikesempatan menunggu sholat isa. Aku memang sering memanfaatkan waktu menjelang isa untuk bertanya apa saja pada Mas Yusuf. Semacam diskusi begitu.
“Ah, lagu lama!” kata Mas Yusuf. Lalu bibirnya membentuk garis lurus, pada saat yang sama dadanya dipenuhi udara yang lalu dikeluarkannya dengan cepat. Kecewa.
“Iya-ya,” ucapku setuju. “Dari dulu kok, rencana melulu.”
“Be-te dengernya.”
“Apaan tuh, be-te?”
“Boring total. Makanya kamu bergaul, War!” Mas Yusuf tergelak. Dia memang lebih senang memanggilku dengan Anwar. Padahal biasanya teman-temanku memanggilku cukup Awang saja.
Seperti kukatakan tadi, aku memang senang tinggal dekat masjid. Tapi kalau aku membandingkan bangunan masjid ini dengan masjid lain, sedih juga rasanya. Padahal aku yakin, penghasilan penghuni komplek ini cukup lumayan. Pegawai bank mendominasi komplek ini. Mestinya kami malu. “Wong komplek bank, masak masjidnya kaya kandang sapi,” sindir seorang ustadz dalam suatu ceramah dhuha.
Tapi sampai aku lulus SMA dan Mas Yusuf sukses meraih gelar sarjana ekonominya, masjid Istiqomah tetap begitu-begitu saja. Tak ada perubahan berarti.

ulv

“War, buku dan kaset itu sudah kamu cek?” tanya Mas Yusuf padaku.
“Masih kurang, Mas, Chaidir dan Zaini belum bayar Snada-nya. Dan ibu Azkia bawa Yusuf Qorodhowi, yang tebal itu lho….”
“Fiqih Zakat?”
“He-eh.”
“Baru bayar tiga kali ya?”
“Ng, eh, iya kan Bim.”
“Iya!”
“Wah berarti masih kurang sekali lagi.”
“Ya, bener!”
O ya, sudah hampir setahun aku, Bimo, Panji, Tatang dan Teguh membantu Mas Yusuf mengelola kios buku. Kami adalah remaja yang tergabung dalam Persatuan Remaja Masjid Al-Istiqomah atau biasa disebut PRIMA. Diantara kami Mas Yusuf-lah yang tertua. Meski lima tahun lebih tua dari kami, dilingkungan masjid dia lebih senang bergaul dengan remaja ketimbang dengan pengurus masjid. Alasannya orangtua kerjaannya cekcok melulu.
Alhamdulillah usaha kami cukup bagus. Penghasilan kami terus melonjak, terutama bila ada acara perayaan hari besar Islam. Bagiku perayaan hari besar Islam itu satu hal yang menyenangkan. Hal lain yang membuatku senang adalah bekerja dengan orang yang kuat menjaga amanah. Ya, Mas Yusuf, seperti Nabi Yusuf, terampil memenej. Tapi menurutku, salah besar kalau dikatakan dia bisa begitu karena gelar SE yang sekarang disandangnya. Bukankah terbukti banyak orang pintar di negeri ini tapi tak bisa mengatasi krisis yang melanda? Jadi menurutku Mas Yusuf bisa seperti itu karena pendekatannya yang tak putus pada Allah, aku yakin itu.
Tapi, sering kudengar Mas Yusuf mengeluhkan kondisi masjid Istiqomah ini. Terutama bila peringatan hari besar itu selesai. Kenapa? Baiklah kuceritakan saja: Pengurus masjidku ini boleh dikata unik juga. Kalau untuk perayaan semacam itu, mereka antusias sekali. Dana yang diperoleh pun bisa dibilang fantastis. Tapi setelah perayaan itu selesai, masjid kembali sepi dari jamaah. Apalagi jamaah sholat subuhnya.
Itu sebabnya kenapa Mas Yusuf punya perasaan lain. Perasaan itu berbeda dengan perasaan yang dimiliki oleh pengurus masjid. “Apa mau mereka?” kata Mas Yusuf mempertanyakan motivasi pengurus masjid.
Waktu itu aku diam saja mendengar keluhannya.
“Dakwah? Ya enggak mungkin!” tegas Mas Yusuf. Lalu Mas Yusuf mengingatkan, bahwa dakwah itu artinya menyeru atau memberi petunjuk. Orang yang memberi haruslah orang yang memiliki. Nah kalau mereka itu tidak pernah atau tidak istiqomah sholat jamaah di masjid, mana bisa dia disebut takmir? Takmir itukan artinya pemakmur masjid. Jadi apa yang mau dia beri?
Menjelang Isa, saat aku berdua saja dengan Mas Yusuf, “Ngomong-ngomong kenapa ya, masjid kita belum ada perubahan?” tanyaku membuka percakapan.
“Mas juga bingung, nggak abis pikir. Kenapa perhatian mereka begitu kecil sama masjid,” kata Mas Yusuf, sambil berbicara matanya tetap lekat pada layar monitor, serius mencatat pembukuan hari ini. “Apa karena mereka terlalu sibuk cari uang sehingga perhatian mereka untuk masjid hanya perhatian sisa, sekedarnya saja. Ah, astagfirullah!”
“Tapi kenapa dulu mereka pada mau ketika diangkat jadi pengurus masjid?”
“Harusnya mereka sadar bahwa kepengurusan juga amanah, dan itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
“Amanah?”
“Ya!”
“Berat juga ya Mas.”
“Maksud Mas begini, Mas yakin mereka itu pasti tidak mungkin menilep duit masjid. Naudzubillah mindzalik dan kita harus husnudzhon. Tapi kalu dana-dana yang ada dikelola dengan lebih baik, pasti masjid ini bisa dibangun. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, ribut hanya karena masalah sepele. Masing-masing berambisi ingin jadi pengurus. Atau masalah yang itu – itu aja, bidah! Tanpa diimbangi dengan kedewasaan,” urai Mas Yusuf, kali ini sorot kedua bola matanya ditancapkan ke mataku.
“Sejauh itu?”
“Ya bahkan, karena kita tinggal di komplek bank, makanya ada keengganan pengurusnya diganti, hanya karena orang yang sekarang menjabat itu dikantornya paling tinggi pangkatnya. Jadi dia enggak mau dipimpin oleh bawahannya?”
“O?”
“Ah, sudahlah, kita omongin yang lain aja.”
Aku diam
“Begini War, besok Mas Yusuf ada panggilan kerja.”
“Panggilan kerja?”
“Iya. Mas pikir Anwar sudah bisa dilepas untuk mengelola toko buku ini.”
“Maksud Mas Yusuf?”
“Pustaka Amanah ini mau Mas pasrahin pengelolaannya sama kamu.”
“Sama Anwar?”
“He-eh, tapi ati-ati lo, ini amanah juga.”

vvv

Mas Yusuf dapat kerjaan? Wah ini tentu saja kejutan, karena beberapa kali Mas Yusuf menolak kerja. Alasannya ingin menjaga diri. Hanya mau kerja dilingkungan yang Islami, jauh dari wanita cantik dan sogok menyogok. Karena itu dia lebih cenderung membuka lapangan kerja sendiri. Seperti toko buku ini.
Hari-hari berikutnya aku mulai disibukkan dengan Pustaka Amanah. Tiga bulan pertama Mas Yusuf masih sering mengontrol. Tapi memasuki bulan keempat dia sudah mulai jarang nongol. Memasuki bulan kelima, kami mengelola Pustaka Amanah, tanpa mas Yusuf. Karena prestasinya, Mas Yusuf diminta untuk mengelola BMT (Baitul Maal Watamwil) di cabang lain, katanya sih di Yogya.
Sepeninggal Mas Yusuf, aku makin agresif untuk mengembangkan Pustaka Amanah. Lalu entah bagaimana muasalnya, kami --atau tepatnya aku-- diserahkan untuk mengelola tromol jumat. Biasanya uang tromol ini digunakan untuk keperluan sehari-hari masjid, seperti kebersihan dan honor marbot, juga honor khatib jumat.
Dari sinilah kesengsaraan itu berawal. Mulanya, aku memakai uang masjid hanya sebatas untuk menukar recehan. Hingga akhirnya aku berani menggunakan tromol jumat untuk kepentingan toko buku yang kami kelola. Kupikir, apa salahnya kalau bisa diganti, daripada mengendap di kotak. Khan lebih baik diputar. Asal bisa diganti, tak masyaalah, begitu pikirku.
Sejak itu, aku merasakan suatu hal yang tidak sehat. Kupikir aku agak boros, nafsu dagangku menggila. Akibat kesibukan yang luar biasa, pembukuan Pustaka Amanah jadi tak terkontrol lagi. Hutang menumpuk disana-sini, sedang piutang tak tercatat dengan baik. Tapi aku tak merasa khawatir karena di kas tersedia jumlah yang cukup. Duit siapa itu? Disinilah letak kelengahanku. Ditambah lagi sikap ketiga temanku yang ogah-ogahan mengelola Pustaka Amanah. Segalanya berjalan tanpa kontrol.
Sungguh dampak dari perbuatanku itu sangat tidak sesederhana seperti yang kukira. Ibarat makan sambel, semakin kepedasan, semakin asyik. Colek dan colek lagi. Semakin dipakai uang tromol itu, semakin menumpuk hutangku. Semua perhitngan bisnisku jadi meleset, ada saja sebabnya. Invisible hand, begitulah adanya. Karena jalan sudah tertutup, akhirnya aku mengakali pembukuan.
Makin hari kurasakan semakin pengap. Setiap hari yang ada cuma tagihan dan tagihan, sumpek jadinya. Silaturahmi ku dengan pengurus masjid jadi terganggu. Karena ada beberapa pengurus masjid yang memasok barang dan belum bisa kubayar. Tagihan yang beruntun membuat dadaku terasa sesak.
Pernah karena tidak ada uang sesenpun, setelah sholat jamaah, aku buru-buru ngumpet di wc Karena sudah beberapa kali Pak Thamrin menagih uang kurma yang dia titipkan ke Pustaka Amanah. Sesungguhnya aku merasa hina sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Ah, ini salahku juga.
Kesengsaraanku semakin bertambah ketika pembangunan masjid dimulai. dampaknya kios bukuku yang ada di dekat gerbang masjid tergusur dan dialihkan ke sebelah kiri masjid, dekat tempat wudhu. Tempat itu sungguh tidak nyaman. Akhirnya mudah ditebak, sepi. Tapi Pustaka Amanah masih tetap buka, tapi lebih sering tutup, hidup segan mati mati pun ogah. Apalagi ketiga temanku itu sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan kios buku ini. Akhirnya aku mengelola Pustaka Amanah tinggal berdua dengan Teguh.
Teguh ini seorang yang agak terbelakang. Sepintas tampak waras tapi, kalau diajak bicara lama kelamaan kamu akan tahu bahwa dia memang begitu, agak idiot. Entah karena kekurangannya itu atau karena sebab lain, kejujurannya pun sering dipertanyakan.
Ya, hanya orang-orang semacam Teguh-lah yang kini pantas menjadi temanku.
Perlahan masalah-masalah ini mempengaruhi kepribadianku. Memang hati manusia itu tidak pernah kosong. Isinya kalau tidak maksiat ya taat. Selalu ada yang mendominasi. Kalau boleh kukatakan, tak ada lagi wara di hatiku. Semangat dakwahku jadi menguap. Aku jadi enggan amar makruf nahyi munkar, aku enggan mengisi kultum. Aku jadi ingat perkataan Mas Yusuf, “dakwah itu artinya memberi.” Sekarang apa yang bisa aku beri?

wvw

Akhirnya aku tak tahan juga, belakangan ada rasa yang diam-diam menghentak di dalam dadaku. Aku ingin sekali imanku yang luntur ini kembali mengental di dadaku. Minimal aku bisa seperti dulu, giat berdakwah. Aku ingin tobat. Ah, aku tak boleh begini terus-terusan. Kelengahanku telah membuatku sengsara. Di dunia saja aku sudah begini, apalagi nanti di akhirat? Aku ngeri sekali.
Alhamdulillah, setelah dua tahun lebih Mas Yusuf meninggalkanku, akhirnya dia datang juga. Dia datang karena ada keperluan mengantarkan undangan. Mas Yusuf mau mengakhiri masa lajangnya. Dalam kesempatan itu, meski tanpa penerangan yang sempurna karena sedang dalam tahap pemasangan listrik, Mas Yusuf mengisi Kultum. Aku kembali mendengar suaranya yang sejuk. Dia mengisi Kultum Isa dengan tema amanah. Aduhai sejuknya hati ini. Setelah sekian lama gersang tak disiram.
Malamnya kami ngobrol habis-habisan soal tema kultum tadi. Setelah acara itu, aku pulang dengan bekal satu tekad baru. Malamnya aku sujud lama sekali dalam sholat malamku. Rasanya aku sudah lama sekali tidak menangis. Setelah itu aku tertidur.
Menjelang subuh aku dibangunkan. Aku dikejutkan oleh sebuah kabar, “Masjid Istiqomah terbakar!” serbu Iin adikku. Lebih lanjut Iin menjelaskan, Masjid itu terbakar karena ulah tukang listrik yang enggak beres kerjanya. Tapi alhamdulillah cepat diatasi sehingga tidak menjalar. “Hanya bagian kiri yang parah,” kalimat terakhir adikku itu cukup membuatku tersentak. Karena disitulah aku menaruh barang daganganku. Segera aku ‘terbang’ menuju Masjid.
Kudapati harta benda milikku itu, sudah porak poranda. Rak-rak besi yang menghitam. Kertas yang beterbangan kesana-kemari, bak anai-anai. Pecahan kaca berserakan disana-sini.
Aku bersyukur bahwa tuhan masih memberiku usia. Tak bisa kubayangkan bila aku masih tertidur di sana, seperti kebiasaanku. Setengah sadar aku berjalan memasuki reruntuhan itu. Tepat dimana aku biasa menaruh kopiah untuk jualan, aku melihat ada cermin yang masih utuh. Biasanya cermin itu dipakai untuk mematut diri bagi pembeli kopiah. Kupungut cermin itu, tapi seperti disengat ribuan volt, refleks kulempar cermin itu disertai jeritan sekuat paru-paruku.
Di cermin itu memantul wajahku, hangus!

Buat: Puguh di Jombang, piye kabare?




Tuesday, September 12, 2006

Mencari Jarum di Atas Tumpukan Jerami (Sisi Lain)

Banyak orang bertanya yang sebenarnya itu bukanlah suatu pertanyaan yang perlu jawaban. Itu hanya satu ekspresi keputus-asaan. Alias menghibur diri belaka. Setelah lelah bekerja dan buntu orang-orang-orang tua kita mengatakan, “Bagai mencari jarum di tumpukkan jerami.”

Tapi, di zaman modern ini jagad bumi mayapada dikejutkan dengan teori pikiran terbalik. Seperti dongeng Malin Kundang, kini orang berani mengatakan bahwa yang salah bukan Malin Kundang tapi justru ibunya. Kenapa? Ya kenapa seorang ibu justru mengutuk anak kandungnya sendiri? Anak yang mberojol dari rahimnya sendiri? Padahal singa saja yang simbol dari kebuasan tidak pernah memakan anaknya sendiri.

Konon kesalehan seseorang dinilai dari seberapa miskin dan dekilnya orang itu. Tapi sekarang, orang Islam harus kaya harus punya kendaraan hebat, kalau orang punya Mercedes keluaran terbaru, orang Islam harus punya helikopter pribadi. Karena sahabat Nabi Muhammad saw dan nabi sendiri adalah orang kaya. Kaya ilmu, kaya keturunan, kepribadian dan tak pernah merasa kekurangan dalam soal harta. Hanya orang kaya yang tak pernah merasa kekurangan.

Kamu juga bisa membantah pepatah ada ubi ada talas. Coba saja bikin percobaan bagaimana supaya ubi berakar talas dan talas menghasilkan ubi. Tak ada salahnya. Karena di jaman kiwari, terbukti, mereka-mereka yang menanam budi tak berbuah balas. Bahkan masuk penjara. Itulah yang balasan yang diterima aktivis Islam.

Ingat pepatah jarum dan jerami? Sekarang bagaimana caranya mencari jarum di atas tumpukan jerami? Apalagi jeraminya banyak sekali. Konon sudah ditumpuk selama 32 tahun lebih. Dijaga secara ketat lagi. Hampir tak ada celah. Hingga sebuah jarum itu memang barang langka. Maka amat heranlah kalau ada orang berniat mencari jarum tadi. Bayangkan baru niat saja sudah divonis, aneh. Sungguh kejam. Hukum negara mana yang undang-undangnya menghukum orang yang baru berniat.

Ada yang mengusulkan jeraminya di bakar saja. Biar semua habis, lalu hanya tersisa jarumnya. Karena jarumkan dari besi, tidak mungkin terbakar, paling hangus. Lagi pula kadar apinya tidak sampai membuat jarum itu lumer.

Tapi usulan itu langsung mental. Ongkosnya kelewat mahal.

Bagaimana kalau sebaliknya, kasih umpan, supaya cacing dan hama pembusuk lekas membuat jerami-jerami itu membusuk bersama. Barulah setelah semua membusuk jarumnya yang mengkilap akan kelihatan kilauannya.

Cara ini pun dinilai tidak akan berhasil. Karena boleh jadi akan membuat jarum itu malah berkarat. Salah-salah mereka yang ingin mengambilnya akan terkena tetanus.

Bagaimana kalau membuat lomba saja, lomba mencari jarum di atas jerami? Boleh juga, tapi biaya beli hadiahnya siapa yang akan mengongkosi? Urusan bisa tambah ruwet karena peraturan tidak jelas malah bisa terjadi cakar-cakaran antara sesama peserta lomba. Persis seperti kelakuan partai-partai Islam di era reformasi.

Bagaimana kalau kita membeli saja lagi sebuah jarum, apa susahnya. Usulan ini pun langsung dibabat oleh orang-orang idealis. “Khan judulnya, Mencari, bukan Membeli,” kata mahasiswa mengingatkan.

Kasih saja umpan wanita, mahluk ini kan biasanya telaten. Tapi ketika dikasih kesempatan dia lebih banyak diam. Bahkan sebagian dari mereka justru mengerecoki. Ada yang bergoyang dangdut, ada yang colek sana colek sini. Mahluk bermulut dua ini, memang sulit didefinisikan, problem solver ataukah making problem? Kaum feminis pasti akan teriak-teriak, “Kenapa kami dijadikan kambing hitam?”

Bagaimana kalau menggunakan besi berani saja. Kerahkan orang-orang bermental besi berani. Pasti kepribadian mereka akan mampu menyedot jarum itu. Tapi, siapa berani membawa besi berani ke dalam tumpukkan jerami? Waah mencari orang bermental berani memasuki jerami sama sulitnya dengan mencari jarum itu sendiri. Kebingungan justru malah bertambah.

Maka setelah perlombaan mencari juara, juara pencari jarum di jerami ditolak, dan iming-iming hadiah besar juga di tolak. Mengerahkan wanita pun ditolak, semua angkat tangan. Semua ingin menyerah. Biarlah jarum tetap jarum dan jerami tetap jerami. Karena kita tidak akan mendapatkan jarum itu. “Yah seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami,” kata mereka sambil membuka dua telapak tangan dan mengangkat dua bahunya.


Padahal jarum suntik berguna untuk perantara cairan kimiawi untuk melawan sakit. Jarum jahit bisa untuk menambal pakaian sehingga menutupi aurat kita. Jarum sol bisa membuat langkah kita mantap karena sepatu kita tidak jebol.

Apakah kita akan membiarkan saja jarum itu. di atas tumpukan jerami? Padahal sudah jelas kegunaan jarum. Dan sudah jelas jerami adalah limbah, sampah dan sumber penyakit. Kecuali memang dia didaur ulang dikubur dulu biar arwahnya jadi pupuk, baru bermanfaat.

Susah! Bagai mencari jarum di atas tumpukan jerami.

Tapi tunggu. Kita lupa atau salah membaca kalimat judul di atas. Kalimat di atas bukan mencari jarum ditumpukan jerami, ditengah jerami atau didalam atau juga di antara jerami. Tapi kalimat yang menjadi judul di atas adalah; Mencari Jarum di atas Tumpukan Jerami.

Sebenarnya tidak perlu bersusah payah mencari jarum di atas tumpukan jerami. Tokh seberapa pun tingginya jerami itu kalo memang jarumnya ada di atas kita akan bisa meraihnya. Tidak sulit mencari-cari lagi. Persoalannya hanya posisi. bagaimana cara kita mencapai ke atas. Itulah yang harus kita lakukan dan upayakan. Kalau sudah di atas, jarum akan mudah kita ambil.

*Kado untuk Munas PKS

Memangya Aku Siapa? (cerpen 2005)

Emangnya Gue Pikirin


Apa sih yang bisa aku lakukan untuk menunjukkan eksistensi diriku ini? Rasanya tak ada, alias sia-sia belaka. Teman-temanku, menasehatkan lebih baik diam saja. Pasrah menerima nasib. setelah mereka selesai mendapatkan apa yang mereka ingin kan. “Semua berlalu begitu saja,” kata kawan di sampingku. Meski, sewaktu berhadapan, mereka menyanjung setinggi langit. Bahkan, sebelum berhadapan dengan kita mereka selalu mencari-cari. Tapi, setelah mereka dapatkan apa yang mereka inginkan mereka segera pergi berlalu. Aku tak pernah diingat-ingatnya lagi. Itulah jeleknya manusia.

Katanya mereka merindukan, mendambakan dan menginginkan aku. Ah, omong kosong! Tak peduli tua-muda, pintar-tolol. Pada akhirnya tokh mereka semua akan mencampakkan aku. Meski seprima apa pun yang aku lakukan untuk melayani mereka. Kadang aku menjadi kuning, merah atau abu-abu atau menyesuaikan dengan warna sekitar. Tubuh berbalur aroma mewangi dan membangkitkkan selera. Tapi, setelah mereka renggut kenikmatan dan memberikan kesegaran baru. Semangat dan kekuatan yang mengalir di aliran pembuluh darah mereka. Pada akhirnya mereka akan menutup hidung, jijik.

Mungkin hanya orang melarat dan yang sedang dipenuhi nafsu saja yang begitu bersemangat menghadapi aku. Mereka akan melahap tubuhku dengan penuh nafsu. itu sangat membahagiakan diriku. Aku merasa keberadaanku menjadi penuh arti. Sesaat memang, karena sebentar saja mereka pun akan sama dengan yang lain. Melupakan aku.

Hari ini aku bertemu Aang, setelah petugas keamanan hotel itu mencampakkan diriku begitu saja. Aku dilempar dari mobil box-nya tanpa menepi. Orang berambut cepak, berbadan gempal itu berlalu begitu saja tanpa mempedulikan aku, setelah mencium sebentar diriku. Mungkin karena beranggapan aku hanya barang bekas, dia tidak jadi menjamahku, takut sakit. Untunglah Aang segera memungut aku, kalau tidak aku bisa kecebur selokan dan menjadi santapan cacing tanah.

Aang membanggakan aku di hadapan teman-temannya. Bibirnya yang penuh air liur dimonyongkan lalu lidah dan giginya habis melumatku dengan penuh nafsu. Semua itu dilakukannya di hadapan teman-temannya. Penuh kebanggaan.

Sambil melumat aku, Aang berkoar-koar.

“Ini namanya rezeki,” kata Aang membanggakan diriku.

Segerombolan anak gembel beranjak remaja yang menjadi lawan bicara Aang hanya diam, memelototi. Seorang lagi, menahan laju air liurnya. Tapi, tampaknya dia tak tahan, hingga air liur itu menetes begitu saja melewati tepi bibirnya. Mengalir bak larva gunung.

“Meskipun kotor seperti got, tapi masih enak. Tilas tapi raos”

Ha ha ha, kalimat yang bodoh. Seperti orang yang tidak makan bangku sekolahan, kira-kira begitulah. Mana ada mahluk sekotor dari selokan yang suci. Lagi pula Aang tidak nyambung apa itu higienis?

“Ang, jatah gue …bagi dong,” kata seorang cowok yang berambut ikal.

“Ntar kalo gue udah puas.”

Dari kejauhan aku menatap sosok yang lain. Sosok itu tidak ikut berlomba mengerumuni aku. Sepertinya dia memasang jarak dan tak tergoda dengan kemewahan yang ada padaku. Kemewahan? Ya, meski aku telah terlempar dari hotel mewah dan menjadi barang bekas, tapi bagi mereka remaja gembel itu aku masih dipandang sebagai sebuaah kemewahan.

Dari kejauhan aku mendengar suara batinnya. Gadis kecil itu merasa beruntung karena makan bangku sekolahan. Jadi masih kenal dengan higienis. Itu dia pelajari karena waktu disekolah TPA-nya. Dulu ada acara promosi dari sebuah produk sabun tentang arti higienis tadi. Juga ada pelajaran tentang kebersihan hati. Walaupun sekarang bangku sekolahnya sudah hancur, tertimpa langit-langitnya. Roboh di makan rayap. Gadis kecil itu makan bangku sekolah dan atap sekolahnya roboh dimakan rayap. O, tragedi.

Di pemukiman eh sori lokasi TPA ini gadis kecil itu terpaksa berteman dengan siapa saja. Termasuk dengan Santi si kupu-kupu malam. Dia terpaksa berteman, karena memang di dunia ini dia tidak punya siapa-siapa lagi. Tak ada pilihan.

Hidup gadis kecil itu berputar sekitar TPA. Dari TPA ke TPA dari Taman Pendidikan Al-Qur’an ke Tempat Pembuangan Akhir. Di TPA yang pertama dia bergaul dengan gadis jilbab dan di TPA yang kedua dia seatap dengan Santi. Seandainya bisa memilih.

Seperti halnya diriku ini. Sebelum ditemukan Aang, aku berada di sebuah hotel yang mewah. Teman-temanku di sana, gemerlap diterpa sinar lampu warna-warni. Suasananya penuh sukacita, gelak tawa bahagia.

Tapi aku dan teman-temanku tetap saja tak bisa berbuat lain, selain diam terpaku dan menurut saja apa kata nasib, entah bibir dan mulut siapa yang akan menjamahku nantinya, kami hanya bisa pasrah. Karena inilah pilihan hidupku. Aku hanya melayani.

Aku dibawa oleh seorang pemuda, yang hanya menyentuh ku sekali saja. Setelah itu aku ditinggalkan di pojok ruang. Hingga seorang petugas menangkapku dan mengumpulkan aku bersama kawan-kawanku. Rata-rata rupa mereka sudah tidak putih lagi dan hancur. Lalu di mobil box, petugas lain menjamahku. Karena dikira aku barang bekas, yang tak menarik lagi--Aku dipandang telah menghapus seleranya-- dia mencampakan aku.

Hingga Aang menemukan aku.

Aku pasrah dan merasa bahagia karena Aang telah membuat keberadaanku menjadi berarti. Aku tak peduli dengan tangan, bibir muka dan badan Aang yang kotor. Aku pasrah dipontang-panting. Berpusing dalam gelombang selera nafsunya. Aku tak berbuat apa-apa, karena tak bisa berbuat apa-apa. Diam, inilah pelayanan totalku.

Aang melumatku habis. Karena terburu-buru, dia menyudahi menggarap aku begitu saja. Aang takut bila aku direbut oleh teman-temannya. Aku ditelannya tanpa mengunyah. Tubuhku tetap utuh, dalam kehangatan tubuh Aang, aku mendengar suara-suara.

Suara mahluk sekotor cacing pita dan juga gema dari luar. Suara orang berebut. Mereka memperebutkan kawan-kawanku. Lalu aku tak sadar. Ketika bangun aku sudah tak ada harganya lagi dihadapan Aang.

Akhirnya sama saja dengan yang lain. Setelah puas, dengan sembunyi-sembunyi Aang mencampakan aku di suatu tempat yang sepi. Setelah melepas hajatnya dia merasa lega.

Masa kecilku adalah suasana pesawahan. Ah indahnya bila mengenal masa itu, angin sepoi-sepoi turut membesarkan aku. Kumbang-kumbang berebut mendekati aku. Siulan pipit menggoda, anak-anak petani berebut bermain bersamaku. Aku memang selamat dari kumbang, pipit dan hama. Hingga tibanya aku dewasa dan matang, seorang anak petani memilih aku dan membawanya pulang. Tapi suasana pedesaan dan bau sawah masih akrab denganku. Hingga nasib membawaku pada seorang tengkulak yang membawa aku ke kota. Sejak itu kehidupanku berubah.

Apalagi di jaman seperti ini, meski lahan untukku semakin menyempit tapi justru semakin banyak manusia-manusia yang tidak menghargai keberadaanku. Mereka terlalu mudah untuk mencampakkan aku. Aku bahkan dijadikan komoditas politik alat tukar untuk mendapatkan popularitas. Sementara orang-orang yang merawatku nasibnya jauh dari garis kemiskinan. Kawan-kawanku bahkan ada yang dipanggil dipanggil Raskin. Ganti nama ah itu sudah biasa di jaman modern. Begitu kalau mau disebut orang kota. Orang bilang mereka korban pergaulan.

Padahal ada pepatah yang mengatakan you are what your eat. Kalau hobi kamu memakan dengan cara yang tidak halal berarti kamu sudah menyediakan tempatmu di neraka. Istri dan anakmu pun pasti akan sengsara.

Kenikmatan hanya sepanjang jari telunjuk. Begitu melewati tenggorokkan rasa apa pun akan hilang. Bahkan ketika yang mereka telan itu balik lagi, orang akan meraasa jijik. Begitulah syahwat yang dikejar-kejar nyatanya jarak itu hanya sebatas jari telunjuk.

Tapi aku hanya diam, karena yang kuhadapi mahluk yang katanya lebih mulya dari aku.

Padahal ingin sekali aku mengingatkan. Bahwa kamu akan dipertimbangkan meski hanya seberat biji zarah. Keberadaanku bukan dinilai dari sedikit atau banyaknya nafsu yang kamu puaskan. Tapi justru dari bagaimana cara kamu mendapaatkan aku. Apakah dengan cara halal atau tidak. Dan sikapmu itu menentukan langkah kamu berikutnya. Barulah Hidupmu berarti. Itulah keberkahan.

Tuan, saudara hamba Allah yang budiman, tolong jangan kau samakan diriku dengan pelacur murahan yang hina. Tempatkan diriku dalam bingkai kesyukuran di hati mu. Karena aku bagian dari kebesaran nikmat-Nya. Dengan menghargai keberadaanku Allaj akan menambah nikimat-Nya. Meski aku hanya sebutir nasi.

Pikirkan itu!


Allahuma bariklana fiema razaaqtana waqiena adza bannaaar
2005

* Tilas tapi raos: Bekas tapi enak (sunda)
Raskin: Beras miskin

Tuhan ada di Mana-mana

“Ladies and gentleman! First of all…eng.., i wish to say, emm… good morning!” ucap Mira memulai perkenalannya.
“Good morninggg….” jawab kami serempak.
“On this oc, occasion, i would….” Lanjut Mira terbata-bata, lalu terdiam, tak mampu melanjutkan kalimatnya.
“I would like to introduce….” Bantu Pak Andi, guru les kami.
“Hmm, yeah. On this occasion hm, I would like to introduce my self. My name is Mira. Mira Anggraini! Just eh most of my friend call me Mira,” ucap Mira melanjutkan kalimatnya yang terputus.
“Please sit down!” perintah Pak Andi pada Mira.
Dengan sedikit tergesa Mira kembali ke tempat duduknya semula. Kulihat tangan kiri Mira merogoh saku roknya, lalu dikeluarkannya selembar tisu. Dengan lembut gadis itu menyapu keringat pada dahi yang mulai mengalir ke bagian pelipisnya.
Kuingat-ingat namanya, M-I-R-A, Mira! Yah sebuah nama yang cukup manis.
Terhitung sampai hari ini, les bahasa Inggrisku memasuki pekan ketiga. Mira murid baru. Walaupun kursus untuk kelas kami telah berjalan tiga pekan, tapi, tetap saja masih menerima murid baru. Maklumlah kursus kacangan. Aku menyebutnya begitu, karena kursus semacam ini banyak sekali. Ya, seperti kacang; kecil, mudah tumbuh dan umurnya pun tidak lama.
Kursus di tempat model kacangan begini memang kemauanku. Aku tetap menolak ketika ibu dan juga Nurul kakakku memaksa untuk mendaftar di LIA (Lembaga Indonesia Amerika). Kupikir, kursus di tempat bergengsi semacam itu tanpa punya dasar yang baik, lebih gawat lagi. Bisa rugi besar. Rugi uang dan waktu. Karena aku pasti akan lebih banyak tertinggal, mengingat program belajarnya yang cepat, sedang bahasa Inggrisku masih berantakan. Biarlah aku kursus di sini sebagai modal untuk kursus yang benar.
Kalau orang punya pendapat lain, ya terserah.
Mira. Wajah cewek itu biasa, tidak cantik dan juga tidak pantas untuk dikatakan jelek. Biasalah. Bahasa Inggrisnya pun biasa untuk ukuran level kami, penampilannya pun biasa. Mira kuanggap teman biasa, seperti aku berteman dengan Hanna, Fitri, Anis atau Taufik dan Budi teman kursusku. Kalaupun ada yang luar biasa, itulah rumahnya yang besar tapi selalu sepi. Kami pernah belajar bersama di sana.
“Jar! Kayanya remaja masjid elu aktif banget ya,” kata Yayat teman sekomplekku. Memang sudah setahun ini aku aktif di IRMA, Ikatan Remaja Masjid Al-Istiqomah. Penggilingan. Sedang Yayat teman semasa di SMP.
“Oh, ya,” ucapku tak acuh.
“Ngapain aja sih?”
“Hmm,” dehemku masih tak acuh pada Yayat, mataku tetap lekat pada Muslim dan Waktu-nya Yusuf Qaradhawi.
“Gini lho Jar, teman gue, agama di keluarganya berantakan sekali. Baru-baru ini kakak laki-lakinya katanya mau pindah agama. Bapaknya masa bodoh. Teman gue pun kayaknya cuek bebeh aja. Gue Heran?”
“O, ya? Siapa namanya?” tanyaku, rasanya aku mulai tertarik dengan pembicaraan Yayat.
“Mira.”
“Mira Anggraini?!” ucapku setengah berteriak sambil dengan sigap aku menangkap Muslim dan Waktu yang terlepas dari tanganku. Hampir saja buku itu ke lantai, kalau sebelumnya tidak menimpa kaki kiriku.
“Kok tau?”
“Cewek itu teman kursus bahasa Inggris gue.”
Tanpa diminta, Yayat bercerita padaku perihal Mira dari A sampai Z.
Tak kusangka, Mira, cewek yang kukenal biasa-biasa saja ternyata menyimpan kisah yang luar biasa. Gawatnya dia menganggap masalah ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Masalah aqidah, bukankah ini tak boleh dianggap kecil?
Babak selanjutnya, aku mulai akrab dengan Mira. Kebetulan, setiap selesai kursus cewek itu langsung ke sekolah. Aku dan Budi satu kelas. Kami akrab ketika sama-sama mengikuti sanlat di Rohis sekolah. Memang pada umumnya anak kelas satu SMA sekolah siang. Jadi paginya aku memanfaatkan untuk kursus bahasa Inggris. Sekolah aku dan Mira searah, hanya berjarak beberapa kilo meter saja. Jadi aku dan Budi punya waktu berbincang-bincang dengannya di dalam bis setiap berangkat ke sekolah. Walaupun itu tidak lebih dari tiga puluh menit. Gosipnya aku sudah jadian dengan Mira. Ah masa bodo.
“Assalamu’alaikum,” salam kuucapkan untuk Mira, ketika aku hendak turun dari bis. Ini kulakukan untuk memancing reaksinya.
Mira menjawabnya dengan senyum. Aku memang sudah menduganya. Ucapan salam seperti itu memang masih asing di telinganya, lidahnya masih kelu untuk menjawab. Mira memang lebih akrab dengan kata-kata: Yo, hai, dadah dan yang sebangsanya. Biarlah perlahan namun pasti kuperkenalkan dia dengan Islam, pada Allah Yang Maha Bijaksana.
Beberapa terobosan kucoba. Tentu saja aku membukanya dengan cara sindiran-sindiran. Untuk berbicara langsung itu sama sekali tidak mungkin. ‘Alergi’-nya akan kumat kalau dia diajak berbicara masalah agama. Padahal ini sebenarnya masalah yang amat penting. Masalah yang tak boleh lepas dari setiap tarikan nafas. Bukankah Islam mengatur kita dari mulai masuk WC sampai ke pentas politik?
Ya Allah bukalah hati Mira.
“Fajar, kenapa sih cerpenmu belakangan ini selalu tentang gadis jilbab?” tanya Mira ketika aku menraktirnya, sepulang dari mengambil honor cerpenku.
“Ah enggak juga, iya kan Fik?” Taufik menganggukkan kepalanya, sedang bibirnya tetap lekat pada sedotan. Asyik dengan es kelapa mudanya.
“Iya, kalo enggak jilbab pasti remaja masjid.”
“Ada lagi, hayo?”
“Pecinta alam? Itu pun masih kau kaitkan dengan agama,”
Kena. Inilah saatnya untuk menyampaikan betapa pentingnya agama pada seorang Mira.
“Harus dong! Di mana saja ada kesempatan untuk menyadarkan orang akan pentingnya beragama. Di gadis jilbab, di gunung, apa lagi remaja masjid. Agama itu perlu Mir.”
“Agama? Bah! Omong kosong! Di keluargaku tak ada agama.”
“Awas! Kulaporkan pemerintah nanti, kamu punya ideologi laen,” candaku untuk mencairkan situasi.
“Maksudku beragama hanya formalitas. Tapi, aku hidup!”
“Tapi kosong!” Budi ikut nimbrung.
Aku dan Mira memandangi Budi.
“Kosong?” kudengar suara Mira pelan, hampir tak terdengar.
***
Hari Ahad besok tempat kursusku mengadakan Amusement Place. Itu lho, pergi ke tempat wisata, lalu berkenalan dengan bule. Kata pembimbingku ini penting untuk membiasakan praktek bahasa Inggris. AP mengambil tempat di Kebun Raya Bogor.
“Eh, i have an idea,” ujarku ketika kursus baru selesai.
“What?” sambut Hanna dan Fitri serempak.
“Begini, bagaimana kalo selesai AP kita naik?”
“Naik apaan?” tanya Hanna.
“Naik gunung, masak naik tangga aja bilang-bilang.”
“AP itu sampe jam berapa sih?” tanya Mira.
“Kan tadi udah dibilangin sama Pak Andi, Zuhur bisa pulang. Trus pulangnya tidak naik mobil carteran lagi. Pulang sendiri-sendiri, bebas euy.”
“Wah asyik tuh!” kata Fitri.
“Yoi mumpung blom puasa,” suara Taufik.
“Enggak usah sampe puncak, kita ke air terjun aja,” saran ku.
“Boleh-boleh!” sambut cewek-cewek itu, Taufik dan Budi manggut-manggut.
Hobiku memang naik gunung. Di remaja masjid komplekku aku diamanahkan sebagai koordinator Kepanduan. Di sekolah aku juga ditunjuk sebagai sekretaris Pecinta Alam. Kalau tidak hati-hati memang kegiatan ini lebih banyak negatifnya. Setidaknya peluang ke arah negatif itu lebih terbuka. Padahal remaja juga punya tanggungjawab, meski di alam terbuka dan jauh dari ortu. Sayang memang jumlah mereka sedikit.
***
Sepekan kemudian, usulku benar-benar terwujud.
“Come on! Ditungguin dari tadi kok!” kata Mira setengah teriak.
“Aku shalat dulu dong, trus mohon pada Allah supaya selamet.”
Kami memburu angkot.
“Mir, kamu udah izin belum?” tanyaku pada Mira setelah lima belas menit di dalam angkot.
“Ortu? Off course!”
“Bukan itu saja, sama Tuhan? Shalat?
Masih saja seperti dulu, ‘alergi’-nya kumat lagi kalau bicara masalah agama.
“Mir, aku rasa sudah waktunya kamu berkenalan dengan Tuhan-mu,” cerocosku tanpa ragu.
“Ih norak deh ngomongnya pake aku-aku.”
“Ha ha ha.” Aku tersipu.
“Di mana sih tuhan?”
Aku memang harus sabar, walaupun hatiku sebenarnya geregetan. “Kan udah dibilangin di mana-mana ada Tuhan.”
“Hei itu gunungnya ya!” teriakan Mira membuat pembicaraan terputus.
Air terjun itu memang terletak di kaki gunung Salak, Bogor. Aku sendiri lupa apa nama air terjun itu. Tapi kalau kamu naik Gunung Salak dari jalur Ciapus pasti akan menemukannya. Gunung Salak sudah banyak menyimpan kisah duka, tentang pendaki yang tewas. Alam memang bukan musuh, karena itu tidak perlu ditaklukan. Justru bencana terjadi karena kita tidak bersahabat dengan alam. Iya kan?
Ketika panas matahari sudah mulai beringsut dan sinarnya agak condong ke barat, kami melangkahkan kaki menuju air terjun. Kalau bawa cewek-cewek seperti ini, perlu waktu sekitar dua jam untuk mencapainya.
Meski diburu waktu, di air terjun kami sempat bermain cipratan air dan foto-foto. Setelah itu kami bergegas untuk pulang. Tapi, Mira minta izin sebentar, “Kebelet nih,” katanya.
Kami menunggu.
Tapi, ditunggu hingga setengah jam mahluk itu belum muncul, tak ada tanda-tandanya. “Hanna, Fitri, coba deh susul Mira!” pintaku. Mau tidak mau aku bersikap, karena tokh secara tidak langsung mereka menunjukku sebagai pemimpin perjalanan.
“Sepi….” jawab Hanna dan Fitri sekembalinya dari lokasi.
“Coba aku cari.”
Aku membiarkan Taufik berlari ke arah yang dilalui Hanna dan Fitri barusan.
Suasana jadi sepi dan mencekam. Seribu prasangka berkecamuk di benak kami. Ini waktu sandekala begitu kepercayaan penduduk setempat. Waktu peralihan dari siang ke malam. Padahal, bukan waktunya yang sial, tapi situasi waktu Asar kerap membuat manusia menjadi ceroboh. Karena itu ada surat Wal Ashri. Supaya kita meningkatkan kehati-hatian. Iya kan?
“Sepi Jar!” Taufik sudah balik.
“Apa yang elu liat?
“Tanda-tanda dari Mira sih enggak ada, tapi gue jadi bingung, banyak jejak kaki?”
“Jejak kaki?” seru Fitri dan Hanna bareng.
“Yang jelas itu bukan jejak elu berdua, karena tanpa alas kaki.”
“O” bibir kedua gadis itu membulat.
“Sekarang begini,” rapat darurat kubuka.
“Cepetan dong Jar, kasian kan Mira,” cemas Fitri.
“Bud, cepat hubungi polisi hutan.”
“Hah Polisi?” Hanna bingung.
“Atau kita bagi dua…eh itu ada rombongan laen?” aku memanjangkan bibir beberapa senti ke arah rombongan yang datang.
“Miraaaaa!” Pekik Fitri dan Hanna.
“Alhamdulillah,” ucap ku lega.
Mira dipapah dua orang wanita dari rombongan itu. Tampak pucat dan lemas. Robekan kecil kulihat pada baju di bagian bahu sebelah kirinya. Goresan ranting pohon membekas berupa garis-garis merah di kedua tangannya.
“A…a aku.” Mira mencoba membuka suara.
“Kami temukan dia di sela-sela semak belukar. Rupanya dia jatuh katika mau mendaki sisi tebing dekat air tejun itu. sebelum pingsan anak kami yang tengah mencari kayu bakar mendengar jeritannya,” tutur bapak yang paling tua di rombongan penduduk itu.
“Terima kasih Pak!” ucap kami serempak.
“Hati-hati nak, tempat itu memang ada ‘penghuni’nya,” pesan kepala kampung itu.
Ya Allah, Mira, Mira.
Setelah berulang-ulang mengucapkan terima kasih, kami segera mohon pamit.
“Fajar kamu benar,” kata Mira, ketika kami baru saja selesai melambaikan tangan pada penduduk.
“Eh aku nggak percaya sama ‘penghuni-penghunian’ itu,” ucapku sekenanya.
“Bukan itu.” Mira menelan ludahnya.
Aku menunggu.
“Ya kamu benar, Tuhan ada di mana-mana.”
Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokkanku. Jantungku berhenti beberapa saat. Aku bahagia, baru kali ini kudengar Mira berbicara masalah Tuhan.
“Ustadz yang mengajarkan,” ucapku.
“Tadi waktu jatuh, dan kesepian yang mencekam, aku sadar, aku butuh sesuatu yang kuat. Aku butuh Tuhan”
Kulihat mata Mira memerah, lalu telunjuknya sibuk menghapus cairan hangat yang menggenangi matanya. Kulihat di batas langit sana, juga memerah. Indah sekali dipandang.
1987


































Antara Jakarta-Kuningan (Cerpen 1998)

It is not the mountain we conquer, but ourselves
(Sir Edmund Hillary, The first people who reached top everest in 1953)

Tanah di sekitar kota Kuningan, Jawa Barat, masih basah oleh gerimis tadi malam. Dedaunan yang rimbun itu runduk karena diberati air hujan. Tunduk bak seorang sufi dalam tafakurnya. Tes, tes, tes, begitu bunyinya ketika jatuh menimpa batu. Merdu ibarat kidung shalawat yang dilantunkan seorang ibu ketika meninabobokan si buah hati tersayang. Simfoni maha dahsyat sedang digelar oleh sang Maha Pencipta.

"Kita jalan sekarang aja, yuk!" saranku pada lyang.

"He-eh. Mumpung masih pagi. Seger," jawabnya.

Tak lama kami sudah berada di dalam perut minibus tujuan Cirebon. Kulirik lyang, si bungsu itu sedang asyik membentuk lingkaran halo dari embun yang masih menempel di kaca. Dari situ dia mengintip Ciremai yang masih diselimuti kabut.

Ciremai 3078 m dpl (dari permukaan laut) merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung ini berada di tiga kabupaten, Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Untuk mendaki ke puncak Ciremai kita dapat memilih jalur yang paling umum melalui Linggarjati atau lewat Palutungan. Bisa juga lewat jalur Apuy, Majalengka. Dari jalur manapun naiknya, jangan lupa baca Bismillah, ya.

"Ada apa sih di puncak gunung, kok senang sekali naik turun gunung, Kak?" tanya lyang, setengah berteriak menandingi deru mesin atau mungkin karena minibus ini berjalan di daerah pegunungan sehingga kuping kami jadi bindeng. Kuamati supir itu melahap tikungan tajam dan menurun dengan kenikmatan tiada tara.

"Ya karena gunung itu ada di sana," jawabku mengutip George Leigh Mallory (1886-1924), pendaki Inggris yang melegenda itu. Pada 1921 George L. Mallory dkk. berhasil sampai di North Col Everest dalam perjalanan penjajagan mereka dari sisi Tibet.

"Ya kalau ada di sini bukan gunung," ujar lyang sambil meninju bahuku. Keki.

Sepanjang jalan kami terus ngobrol tentang apa saja. lyang terlihat begitu gembira, mungkin karena baru saja lepas dari rutinitas di pesantren. Usai mendaki puncak Ciremai untuk kelima kalinya ini, aku sengaja memisahkan diri dari grupku. Bapak berpesan agar aku menyempatkan diri untuk mampir ke tempat adikku lyang, yang sedang nyantri di Husnul Khotimah, pondok pesantren modern di kaki gunung Ciremai, tepatnya di desa Manis Kidul, Kuningan.

Setengah jam kemudian, minibus masuk ke terminal Cirebon. Memang untuk sampai ke Jakarta kalau suasana liburan seperti ini jarang ada bis yang kosong. Alternatifnya, kita ke Cire­bon dulu dengan minibus. Lalu nyambung dengan bis ke Jakarta.

Kami memilih bangku tengah yang berbaris tiga agar lebih leluasa. Kebetulan isi bis baru separuhnya. Setengah jam berlalu. Tapi, bis tetap tidak bergerak meski penumpang sudah cukup banyak. Sebagian mulai gelisah karena panas. Sopir bis yang kami tumpangi kelihatan cuek saja. Bahkan sopir itu asyik bercanda dengan mbakyu penjaja jamu gendong. Aduh, mangkelnya hati ini.

Setengah sadar aku merasakan seorang ibu tua berkerudung melintas di sampingku. Ibu itu mendapat tempat di atas kap mesin. Ternyata di belakang sang ibu menguntit seorang wanita. Refleks aku bangkit dan mempersilakannya agar duduk di paling pinggir, dekat kaca.

Akhirnya bis pun beragkat. Ufh senangnya. lyang pun mulai berceloteh lagi. Entah bagaimana awalnya, kami membincangkan Cigugur, sebuah de­sa di kaki Ciremai yang berubah menjadi perkampungan Kristen. Padahal tadinya warga Cigugur itu penganut animisme -aliran Madrais- lalu beralih ke Kris­ten. Kenapa tidak ke Islam? Padahal penduduk Kuningan mayoritas muslim. Kemana da'i-da'inya? Hati kami gemuruh.

Kami terus mengobrol. Kadang-kadang lyang menggunakan bahasa Arab ketika bercerita. Alhamdulillah, aku bisa meladeninya. Meskipun aku bukan anak pesantren, aku masih punya waktu untuk belajar bahasa Arab sambil kuliah.

Aku menjadi menjadi malas meladeni kecentilan adikku ini ketika dia mengalihkan pembicaraan ke masalah pernikahan. Baginya aneh, aku yang usianya sudah lebih dari 25 tahun ini masih belum ada tanda-tanda mau menikah. Sama sebelnya ketika ada orang yang menanyakan, “Kapan kelarnya kuliah?” Uwek!!!

Obrolan kami terhenti ketika sampai di Cikampek. Bis yang kami tumpangi berhenti untuk mengisi bahan bakar. Beberapa orang turun, termasuk wanita yang duduk di samping lyang.

"Kak Imung, lyang turun dulu ya. Mau pipis,"

"Jangan lama-lama. Nanti ketinggalan, Iho."

lyang hanya tertawa kecil.

Beberapa menit berlalu, tapi lyang belum muncul juga. Aku mulai geiisah. Duh, kemana anak ini?

Aku segera turun dari bis, dan mulai celingak-celinguk. Tiba-tiba terdengar suara lyang memanggilku. Aku berbalik. Kulihat lyang berjalan tergesa ke arahku. Jilbab hijaunya berkibar tertiup angin. Begitu ia mendekat segera kulihat matanya basah. Tentu saja aku kaget.

"Kak, ibu itu...." ucap lyang sambil menghapus air matanya.

"Kenapa?"

"Ibu itu ternyata mendengarkan semua obrolan kita. Dan ia ternyata bisa berbahasa Arab!"

"Ah, masa?!"

"Betul, Kak. Ternyata ia anak seorang ajengan," kata lyang dengan mimik serius. "Kakak mau tahu namanya. Namanya Christina!"

Aku melongo.

"Dulu namanya Kustina. Tapi begitu pindah agama, namanya diganti," cerita lyang tanpa kuminta. "Kira-kira tujuh tahun yang lalu, desanya kena musibah sehingga panen gagal. Lalu datang orang asing menawarkan bantuan. Tentu saja penduduk desa merasa senang. Bahkan orang itu bersedia masuk Islam. Dan ketika ia melamar ibu itu, semua orang merasa senang," tutur iyang terburu.

"Lalu setelah menikah dan punya anak, or­ang itu murtad dan memaksa ibu itu pindah agama," potongku cepat. lyang mengiyakan.

Hhh, aku menghela nafas panjang. Cerita klasik.

"Ibu itu sekarang sedang ke Rumah Sakit Bekasi, ingin menengok anak tunggalnya. Seminggu yang lalu suami dan anaknya itu mengalami kecelakaan. Suaminya meninggal di tempat kejadian, sedangkan anaknya selamat. Dia ke Kuningan untuk ziarah ke makam ayahnya. Setelah ibu itu pindah agama, ajengan itu sakit-sakitan dan meninggal setahun yang lalu..."

Aku tertegun. Cerita lyang membuat dadaku nyeri. Sejenak aku tidak berkata apa-apa. Pikiranku melayang-layang. Rumah Sakit Bekasi? Mengapa aku tidak ke sana saja? Semangatku muncul tiba-tiba. Aku harus mengambil keputusan sekarang. Ya, sekarang! Tapi, bagaimana dengan lyang.

"Kasihan ya Kak, ibu itu. Andai kita bisa menolongnya," kata lyang pelan.

Kutoleh lyang dengan seulas senyum.

***
Tiga tahun berlalu.

Tanah di sekitar kota Kuningan masih basah oleh gerimis tadi malam. Dedaunan yang rimbun itu runduk karena diberati air hujan. Tunduk bak seorang sufi dalam tafa­kurnya. Tes, tes, tes begitu bunyinya ketika jatuh menimpa batu. Merdu ibarat kidung shalawat yang dilantunkan seorang ibu ketika meninabobokan si buah hati tersayang. Simponi maha dahsyat sedang digelar oleh Sang Maha Pencipta.

Kuningan, kurang lebih 350 kilometer timur Jakarta. Sebuah kota yang akrab dengan hal-hal yang berbau mistik, teluh dan mantra. Kota ini kupilih untuk merintis sebuah pondok pesantren peternakan. Hal ini kuputuskan setelah aku meraih gelar insinyur pertanian. Dan lyang pun sudah selesai nyantri.

Kawan, lihatlah lurus ke arah Ciremai. Betapa indah dan penuh misterinya unun itu. Seperti kehidupan ini.

Seorang perempuan berjilbab biru kelihatan asyik memberi pakan ayam. Ceria ia bersenandung, seolah-olah tidak mau kalah dengan kicau burung di pepohonan. Suara kotek ayam menjadi musik alami yang menyertai senandungnya.

Di sini aku berdiri gagah menatap Ciremai.

Perempuan itu menoleh dan tersenyum simpul. Aku pun gembira melihat itu, terbentang cita-cita setinggi dan segagah Ciremai.

Ya, perempuan itu adalah istriku. Kustina namanya.

Kuningan, 1998
Kado ulang tahun buat Ibrahim, jundiku.

Monday, September 11, 2006

Bis Nostalgia (cerpen 1989)

“Dari tadi juga aku yakin, kamu pasti Windu.”
“Hanafi…,kemana aja kamu?”
“Eit, enggak salah? Kamu yang kemana aja?”
Pertemuan yang tak terduga sehingga membuatku seakan tak percaya pada kenyataan ini. Tak kusangka, cuaca petang yang mendung ini sangat berlawanan dengan cuaca hatiku. Cerah, itulah yang kurasakan. Angan-anganku menjadi kenyataan. Setiap ada kesempatan naik bis tingkat nomor 55, jurusan Pulo Gadung-Pasar Baru ini, aku selalu memilih duduk di bangku atas persis di belakang tangga. Aku selalu menghayal engkau pun hadir di situ. Itu kulakukan berulang-ulang. Dengan harapan engkau pun memendam rindu yang sama.
Petang ini, aku naik bis yang penuh nostalgia ini dengan tergesa-gesa. Karena bis sudah mulai berjalan. Dan sialnya bangku di belakang tangga itu sudah terisi oleh orang lain. Walaupun di sebelahnya masih kosong. Aneh, aku tak berani duduk di sampingnya. Kulirik gadis itu, eh…dia pun menoleh kepadaku. Debaran-debaran yang cukup keras kurasakan di dadaku. Rasanya aku pernah kenal dan akrab dengan wajah itu.
Sedikit keras kubanting pantat dan tas ke bangku mobil. Dengan kelima jari kanan kusisir rambut ikalku. Perjalanan Yogya-Jakarta membuat badanku terasa remuk. Aku memilih tempat duduk yang agak jauh dari gadis itu.
Kulirik lagi gadis tadi. Aku yakin penglihatanku tidak salah dan bukan pula pengaruh dari hayalanku sendiri.
Tiba-tiba gadis itu menengok kepadaku dan tersenyum. Tepat pada saat itu juga aku masih menatap ke arahnya. Senyumnya semakin menambah keyakinanku.
Tak salah lagi, gadis yang duduk di belakang tangga itu adalah kamu, Windu. Gadis yang telah membuat hati ini menjadi merah dan biru. Terbakar dendam dan rindu. Karena aku hafal benar gerak-gerikmu, saat kau duduk dan selalu meminta duduk di pinggir. Saat kau merapikan anak rambutmu. Saat kau menceritakan masalah-masalahmu. Dan tentu saja aku akan selalu ingat, saat senyum tipismu berkembang.
Selanjutnya aku tak ragu-ragu lagi untuk menghampirimu.
“Kamu kok tambah panjang sih, Win!” ujarku setelah lama kami terdiam.
“Ah masa?”
“Iya rambutmu itu!”
‘Hanafi, Hanafi, kamu tuh paling bisa membuat orang tertawa.”
Tentu saja Windu. Aku akan sering tertawa atau tersenyum. Karena itulah prinsip hidupku. Masih ingatkah kamu dengan kata-kataku yang selalu kukatakan dan kutekankan padamu? Rasanya sering sekali kata-kata itu kuucapkan. Terlebih lagi di bis ini, ketika kau bercerita tentang masalah-masalah pahitmu. Ya, hadapilah hidup ini dengan senyum, maksudku tawakal.
Celakanya prinsip yang kuajarkan padamu itu, seakan-akan menjadi bumerang bagi diriku. Yang akan mencelakakan aku sendiri. Karena setelah prinsip yang kuajarkan itu kau amalkan, senyummu selalu membayang di pelupuk mata ini.
“Jadi kau sudah lama ada di Jakarta?” tanyaku padamu.
“Ya! Dan kau baru datang dari Yogya-kan?”
“Tepat!”
“Apa akan kau habiskan liburan semestermu itu di Jakarta?”
“Ya! Insya Allah, Jakarta kota kita disitulah aku dilahirkan.…”
“Rumahku di salah satu gang / Namanya gang Kelinci….” Suara merdu Windu menirukan tembang nostalgia Lilis Suryani.
“Ha ha ha….” Aku terbahak.
Keakraban sudah tercipta kembali.
Kulihat kau tersenyum. Wajahmu bersinar, walau cuaca mendung. Rambut panjangmu berkibar diterpa angin jalanan yang masuk melalui jendela. Kau tampak begitu repot merapikan anak rambutmu yang dipermainkan angin. Ah, betapa kagumnya aku padamu. Lalu kau ceritakan bahwa kau sudah sering naik bis ini dan duduk di belakang tangga. Seperti kebiasaan kita dulu. Sejak kedatanganmu beberapa hari lalu di Jakarta.
Sekarang aku seakan terseret pada lingkaran nostalgia kita. Ah, bis ini memang menyimpan sejuta kenangan yang terlalu sukar untuk dilupakan.
“Yogya memang indah Win, tapi lebih indah lagi bis ini,” ujarku.
“Ya, khususnya bagi kita.”
“Eh, kamu masih ingat enggak sama Sisi?!”
“Sisi yang pernah kamu omeli di bis ini, karena mengejekku secara keterlaluan?”
Aku menganggukkan kepala.
“Ya, masih, kenapa?
“Dia sekarang di Yogya.”
“Kuliah?”
“Enggak! Dia jadi tetanggaku di sana. Sudah dua Win ekornya.”
“Masya Allah…jadi dia sudah menikah?”
“Ya, kecelakaan.”
“Dengan siapa?”
“Rudi!”
“Rud… di. Astagfirullah dunia-dunia.”
Tiga tahun lebih kita tidak berjumpa. Perubahan besar kulihat terjadi pada dirimu. Sikapmu yang bertambah dewasa, rambutmu yang kau biarkan memanjang, tutur katamu yang tak lagi centil seperti dulu. Perubahan itulah yang antara lain kulihat. Dulu kau tidak suka berambut panjang, “Repot!” begitu alasanmu. Bahkan perubahan besar yang tampak dari dirimu adalah sikapmu yang begitu religius. Tentunya suatu peristiwa besar telah terjadi pada dirimu.
Aku tak menyangka Win, ternyata kesuksesanku menempuh Sipenmaru tidak dibarengi dengan kesuksesanmu. Padahal nilai ijazahku di bawah nilai ijazahmu. Bahkan aku sendiri yakin bahwa kau akan diterima di fakultas pilihanmu ketimbang aku. Tapi kenyataan berbicara lain. Aku bingung dengan kenyataan ini.
Semester pertama dari kuliah, kita sambung persahabatan ini lewat surat. Yogya-Jakarta mampu kita tembus. Surat-surat kita saling berbalasan dalam waktu yang tak begitu lama. Dalam satu minggu pastilah ada satu surat yang kuterima darimu atau kukirim untukmu.
Surat-suratmu masih ku simpan. Kalau pun surat-suratmu itu tidak kau temui dalam tumpukkan arsip surat-suratku, pastilah surat-suratmu itu akan kau temui di hati ku. Surat-suratmu itu merupakan kenangan indah bagiku. Kecuali ketiga suratmu yang terakhir, yang kau layangkan ketika semester kedua ku berakhir. Surat itu telah kubakar karena membuat hatiku hangus terbakar cemburu.
Dalam ketiga suratmu yang terakhir itu, kau selalu menyebut-nyebut Beni, sahabatmu yang kukenal lewat surat-suratmu yang terakhir itu. Kau ceritakan bahwa dia mirip aku, humoris dan organisatoris. Dia berhasil membangkitkanmu ketika kau runtuh karena tak tembus Sipenmaru. Klimaksnya itulah ketika kau katakan lewat suratmu bahwa kau sering pulang dan berangkat kuliah bersamanya. Dan naik bis tingkat nomor 55 ini, seperti kebiasaan kita dulu.
Kamu tentu tidak tahu Win, betapa kecewa dan tersinggungnya aku. Yang jelas aku merasa masih mempunyai hak atas dirimu. Aku berhak cemburu atas sikapmu. Tapi aku sendiri lemah, aku tak mampu menunjukkan kecemburuanku itu padamu. Mau marah, kamu tak pantas untuk dimarahi. Menuntut? Sungguh itu lebih tidak pantas lagi kulakukan. Apa pun yang kamu lakukan itu adalah hakmu. Akhirnya aku membiarkan diriku untuk menerimanya. Tentu saja dengan memendam sejuta kecewa.
Kebetulan Win, jatah kost ku habis. Kemudian aku pindah kost. Kutinggalkan debu-debu ketiga kertas suratmu yang hitam karena kubakar, juga semua kenangan hitamnya. Dan aku rasa tak perlu lagi memberi alamat baruku padamu. Sejak itu hubungan kita putus.
Seluruh waktuku kuisi dengan perkuliahan dan kegiatan kampus lainnya. Aku tak boleh larut dalam kekecewaan. Yah, mungkin ini sebagai pelarian, kuakui itu dengan jujur. Tapi aku bangga dengan diriku karena pelarianku yang positif. Aku mencoba untuk tersenyum dalam kesedihan. Seperti prinsip hidup kita dulu.
Aku kan laki-laki.
Segala sesuatu itu ada puncaknya. Begitu pula rasa benciku padamu Win. Kenangan indah memang teman yang paling nikmat untuk dikenang. Tapi tahukah kamu Win, rindu dan kenangan adalah siksaan tak bertepi. Karena itu, ketika liburan semester keempat tiba, aku bermaksud menemuimu. Aku tak peduli kau sudah menjadi milik orang lain atau belum. Kalau pun kau sudah tiada, aku akan mencari pusaramu. Yang penting aku harus bertemu denganmu. Karena aku sudah tak mampu lagi memendam rasa rinduku.
Nyatanya tak semudah dulu lagi aku bisa menemuimu. Rumahmu telah berganti isinya. Kau beserta keluargamu pindah begitu juga kuliahmu. Kau pindah entah kemana?
“Jadi, lu kaga tau diman Windu?” tanyaku pada Hamid.
“Sorry Fi. Gue kira lu udeh nikah….”
“Ah, macem-macem aja lu!”
“Sungguh Fi, gue bener-bener kaga tau!”
Ya, jawaban-jawaban seperti itulah yang selalu kuterima bila kutanyakan pada kawan-kawan es em a kita dulu. Selalu, “Tidak tahu!” sedang saudaramu tak ada yang kukenal. Sering aku memaki diriku sendiri yang membenci dan meninggalkanmu tanpa mau “melihat’ dengan sadar siapa Beni-mu itu? Aku telah dibutakan oleh cintaku yang berlebihan. Ah nasi telah menjadi bubur, bubur basi lagi. Dan aku harus menelannya.
Kabar terakhir kudapat dari kawan akrabmu.
“Jadi kamu tahu kemana Windu pindah Fit? Dimana dia sekarang Fit?!” tanyaku pada Fitri dengan terburu-buru.
“Tidak juga, tapi kemarin Fitri terima surat dari Windu.”
“Terus…?” potongku.
“Sebentar….” Ujar Fitri sambil bergegas masuk kekamarnya.
Tak lama Fitri muncul. Di tangannya terselip sehelai surat.
“Ini,” Fitri menyodorkan surat itu padaku. “Mungkin kamu akan lebih jelas dengan membacanya.”
Kuambil surat itu dari tangan Fitri. Melihat perangkonya saja sudah membuatku kaget. Bagaimana tidak, perangko itu berasal dari negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Sayangnya tanpa alamat pengirim.
“Jadi hanya ini yang kamu ketahui tentang dia,” tanyaku pada Fitri setelah selesai membaca isi surat itu.
“Ya, hanya itu.”
“Tidak jelas dia menderita sakit apa.”
“Tentu penyakitnya itu tidak ringan.”
“Aku ragu….”
“Maksudmu?”
“Ya, aku ragu apakah dia masih ada di dunia ini?”
“Hanafi!”
Aku merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Windu lewat surat yang ditujukan pada Fitri itu. Lebih dari tiga tahun aku bergaul dengannya. Tapi tak pernah sekalipun kudengar di mengeluh tentang penyakitnya. Kalaupun dia mengeluh paling-paling pusing atau kakinya pegal. Biasanya dia mengatakan itu sehabis olahraga. Itu kuanggap wajar-wajar saja. Karena aku atau siapa pun akan merasakan pegal dan pusing bila terlalu lelah. Sekarang kuterima kabar dia dirawat di Amerika Serikat. Gila!
Kenyataan ini sangat memukul diriku, hingga membuatku runtuh. Kecewa dan kehilangan semangat hidup. Kuliahku menjadi berantakan dan aku tak aktif lagi mengurus organisasi. Bagaimana untuk mengurus kuliah dan organisasi kalau untuk mengurus diri sendiri saja aku tak bergairah lagi. Aku benar-benar tak peduli dengan diriku dan keadaan sekitarku. tak ada lagi Hanafi yang humoris dan organisatoris. Yang ada adalah Hanafi yang mudah tersinggung dan pesimis.
Itu berlangsung cukup lama Win. Sampai akhirnya aku malu pada diriku sendiri, pada kau, terlebih lagi pada Tuhan. “Mana mentalmu? Yang dulu begitu tegar memimpin OSIS es em a dulu? Mana mentalmu sebagai aktivis senat? Sekarang kau rubuh hanya karena seorang cewek!” maki hati kecilku.
Ya. Aku harus bangkit Win. Setelah untuk kedua kalinya aku jatuh. Aku ingat kata-kata yang sering kuucapkan padamu, walaupun setengah bercanda, “Hadapilah hidup ini dengan senyum.” Rasanya aku dituntut untuk mengamalkan kata-kataku sendiri.
Beruntunglah aku memiliki orangtua yang membekali anak-anaknya tidak hanya dengan harta tapi juga dengan agama. Akupun pasrah dan berhasil melupakan rasa kecewaku pada dirimu. Kemudian menyerahkan urusan ini pada-Nya. Pada Tuhan. Aku yakin bila Dia berkenan untuk menyatukan kita kembali itu bukanlah hal yang mustahil.
Walaupun sekian kali kucoba untuk mencarimu hanya jalan buntu yang kutemui aku tidak putus asa. Berdoa dan pasrah mengharapkan pertolongan-Nya, usaha itulah yang sekarang kulakukan.
Justru dikala itulah pertolongan Allah tiba. Dikala aku pasrah dan hanya mengharaapkan pertolongan dari-Nya, saat itulah Tuhan mempertemukan kita kembali. Satu hal yang terkadang kupikir mustahil.
“Turun di Pramuka kan?” Pertanyaannya menyadarkan aku dari lamunan.
“Aku juga turun di sana.”
“Rumahmu…?”
“Rumahku masih di sana, mereka tidak mengontrak di rumahku lagi.”
“Jadi rumahmu itu tidak kau jual, dan kau tinggal di situ lagi?”
“Tentu!”
Hatiku serasa ingin keluar dari dadaku.
“Yuk turun,” pintaku sambil beranjak dari kursi.
“Tunggu….” Sahut Windu.
Windu meraih sesuatu dari kolong tempat duduknya. Sedang kedua bola matanya lurus menancap ke mataku. Aku terpana dan tak mampu mengartikan apa maksudnya. Kemudian bibir tipisnya mengembang, walaupun hasilnya terasa hambar karena senyum itu dipaksakan. Dengan perlahan dia mengeluarkan sesuatu dari kolong tempat duduknya.
Ya Tuhan…kruk! Buat apa dia bawa barang itu? Apakah dia, ah tidak! Tidak mungkin! Dan lebih terkejut lagi ketika rok panjangnya tersingkap. Maka tampaklah sebelah betisnya yang sudah diganti besi.
“Tumor ganas telah merenggut sebelah kakiku…” ujarnya tenang.
***
Saat akan membayar ongkos, dari dompetku tersembul foto Mayang dan Baim. Keduanya istri dan anakku. Aku seakan tersadar bahwa keakraban ini memang berlebihan.
Tapi di sisi lain aku bersyukur semua ada hikmah. Bila aku memaksakan diri untuk berjodoh dengan Windu tentu aku tidak akan memiliki Baim. Karena akibat tumornya itu, Windu divonis tidak bisa memiliki keturunan. Rahimnya sudah diangkat.
1989

Bagaimana Caranya Menjadi Bos (cerpen)

"Tom undangan neh,” suara Dodo sambil menaruh secarik undangan bermotif bunga ke mejaku.

Anto menikah dengan Anti. Tidak ada yang membuatku menjadi lebih terhina dari ini. Sungguh aku sendiri merasa inilah keadaan yang paling kacau sepanjang 30-an usiaku. Langit serasa runtuh. Tak ada lagi harapan yan bisa aku kembangkan.

Semua sudah habis. Hidupku sudah berakhir di sini. Aku bertekad, sisa hari-hari dalam hidupku akan kuisi dengan dendam. Kalau mau hancur-hancurlah semua. Jangan aku saja. Nyala api dendam itulah yang memanggang otakku sekarang ini. Aku tak mau terbakar sendiri. Enak saja mereka bahagia lalu aku sengsara, gosong sendirian.

Sendirian? Ya, karena memang aku menutupi affair ini dari siapapun. Khususnya teman-teman ngajiku. Bisa malu abis bila mereka tahu. Sendiri? ya karena Anti hanya menganggapku teman sejawat. Tidak lebih dan tidak kurang. Dia tidak tahu bahwa dibalik semua kebaikan yang aku lakukan padanya, ada udangnya.

Betapa sakitnya!

Kamu tahu siapa Anti, dia itu mahasiswi yang masuk ke kantor ini dalam keadaan nol. Ijazah sarjana menejemennya masih menggantung karena skripsinya belum kelar. Dia masuk ke kantor ini lantaran aku. Akulah yang meyakinkan Bos Besar agar dia diterima bekerja. Terus, aku bimbing dia hingga akhirnya menjadi orang yang layak menerima tugas.

Tak perlu heran bila karir cewek keturunan Arab itu menanjak. Dibalik itu semua akulah yang sibuk menuliskan laporan. Dan aku pula yang pontang-panting mengajak ke sana-sini, merekomendasikannya pada semua orang. Aku juga membelikan buku ini dan buku itu sebagai suapan intelektualnya. Hingga skripsinya selesai dan dia berhak menuliskan, SE dibelakang namanya. Tak cukup, aku juga kerap mengajaknya makan sate dan jalan-jalan ke mall sebagai bukti bahwa aku memperhatikannya.

Semua usahaku tidak sia-sia. Anti berhasil masuk jajaran yang patut diperhitungkan. Tapi, aku salah perhitungan. Anto lebih lincah dari aku. Dia ‘menembak’ duluan dan bidikannya tepat. Aku yang jadi korban. Terkapar sendirian.

Betapa sakitnya!

“Kenapa kamu mau kerja di lembaga charity seperti ini?” tanyaku pada Anti dua tahun silam.

Sebagai jawabannya, cewek semampai itu menceritakan bahwa suatu hari dia melihat iklan lowongan di sebuah majalah. Lalu dia kirim CV-nya. Eh, ajaib keterima. “Emang tadinya aku enggak ada niat jadi volunteer,” jawabnya enteng.

Seperti kubilang, dia tidak tahu, akulah yang merayu Bos Besar supaya dia diterima. Ya, memang aku bekerja di sebuah lembaga Charity. “Tapi keterusan dan akhirnya kamu jadi suka kan?”

“Ya dinikmatin aja!” katanya ringan. Seringan sikapnya ketika menghadapi aku. Tak ada beban.

Lalu siapa Anto? Statusnya tidak lebih dari Anti, dia juga anak buahku. Dia masuk LSM ini beda beberapa bulan dengan Anti. Keduanya aku yang memanggil dan aku pula yang mengetes pada salah satu tahapannya. Tapi kenapa Anto yang mendapatkan Anti? Kenyataan inilah yang tidak bisa aku terima. Aku jadi pecundang. Aku merasa terhina.

Akhirnya puncak dari gumpalan kekecewaanku, aku mendapatkan kesimpulan bahwa aku arus memisahkan mereka. Lalu aku menyusun rencana busuk. Setiap saat aku harus menugaskan Anto ke tempat yang berbahaya. Setiap ada bencana atau kerusuhan, dia kutunjuk sebagai Tim Advant. Kusuruh dia pergi ke tempat yang penuh dengan resiko. Biar dia mampus! Biar mereka juga sengsara. Ha ha ha....

“Itu akan membakar dirimu?” bisik hati kecilku.

Persetan!

“Menang kalah jadi abu,” kejar batinku.

Masa bodo.

“Rusak binasa!”

Biar!

Demikianlah hari demi hari, aku menikmati penyiksaan ini. Anto memang mendapatkan Anti. Tapi, aku berhasil medepak salah seorang di antara mereka untuk keluar dari kantor ini. Aku bilang pada bos bahwa tak baik suami istri kerja di lembaga yang sama.

Aku masih belum puas. Meski, hari kehari justru aku sendiri yang merasa tersiksa, karena orang-orang di kantor justru lebih akrab dengan Anto. Pesaingku ini menjadi tempat bertanya ketika mereka menemui kesulitan di lapangan. Bahkan tak hanya orang kantor. Sponsor pun sekarang kalau meminta pembicara pasti ditujukan ke Anto. Lelaki itu menjadi matang dan terkenal karena sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar.

Dia juga sering mendapat tugas ke luar kota. Sisa SPJ-nya dan honor dari seminar, sudah menjadi rumah dan mobil. Anto dikagumi banyak orang. Anto menjadi lebih terkenal dari siapa pun di kantor ini. Kekecewaanku semakin bertambah ketika dia menjadi orang yang selevel denganku. Dia sekarang menjadi Kepala Staf, sama dengan aku.

Gila! Cinta yang tidak pada tempatnya ini telah berubah menjadi nafsu yang buta dan membuatku tolol. Aku tak bisa lagi melihat siapa diriku. Padahal aku bekerja di lembaga yang memakai embel-embel agama.

Namun, cerita belum berakhir. Ketika lembaga sosial yang kami kelola ini pamornya semakin menanjak karena gempa dan tsunami semakin banyak terjadi di negeri ini, Anto diangkat menjadi bos. Dia menjadi Kepala Divisi yang mengurus bidang luar negeri. Sekarang secara hirarki aku ada di bawahnya. Itu artinya aku sekarang menjadi anak buahnya. Sompret!

Aku sekarang benar-benar berada di neraka yang menyala-nyala. Hilang sudah semuanya, wibawa, karier dan masa depanku. Betapa jahatnya aku, kerja di lembaga bantuan yang memakai embel-embel agama tapi justru punya piktor, pikiran kotor.


Anto sukses karena dia berani mengambil resiko. Dia juga benar-benar menunjukkan diri sebagai professional sejati. Tak pernah menolak tugas meski seberat apa pun. Dia tak pernah berpikir bahwa apa yang dikerjakannya akan sia-sia. Hidupnya benar-benar diabdikan pada kesejatian profesinya, dokter reaksi cepat. Aku lihat, Anti, dia juga cukup sukses. Sikapnya yang berani mengambil kesempatan itu membuat dia sukses mengelola bisnis kateringnya.

Anto dan Anti menjadi pasangan yang serasi. Mereka tampak bahagia.

Sedang aku? Aku berjalan ke arah minus. Kalau tidak segera kembali, aku akan benar-benar hangus. Aku semakin malas memikirkan perkawinan. Akh, Dulu Anto telah mengajari aku bagaimana sebenarnya menjadi bos hingga aku bisa menjadikan Anto orang yang berprestasi. Aku telah memberinya kesempatan untuk berkembang. Dan sikapnya yang penurut itu menjadikan kariernya terus melejit.

Kini situasinya terbalik Anto menjadi bosku. Aku harus terima kenyataan ini. Aku harus bersihkan diriku dari dendam, karena aku tak mau terbakar lagi oleh nyalanya. Sekarang aku akan mengajarinya bagaimana seharusnya menjadi bos? Akan kubilang padanya berilah aku kesempatan. Astagfirullah, sikap megalomania ku memang belum seratus persen hilang.

***

Pagi ini aku ke kantor dengan senyum ceria. Aku merasa telah menemukan diriku lagi. Aku harus kembali ke rel semula. Menjadi dokter volunteer yang baik dan terus menyebarkan kebaikan. Tentu saja dengan cara menjadi anak buah yang baik. Meski bos ku itu adalah Anto. Siapa? Ya, Anto orang yang telah merebut….Ah sudahlah!

Aku berkeyakinan penuh telah (agak) selamat melewati masa kritis ini. Ah, betapa malunya aku menyimpan birahi pada istri temanku, eh istri bos ku sendiri. Belum terlambat, ini saja yang aku syukuri. Dan aku berkeinginan hari-hari ke depan adalah hari-hari yang khusnul khotimah.

Sampai di kantor, pimpinan lembaga charity tempatku bekerja memanggil. Ketika tiba di ruangannya. Aku sudah melihat tiga orang atasanku di sana. “Mas tolong, kita diminta untuk evakuasi korban kebiadaban Israel. Sekarang Anda berangkat ke Libanon ya!” kata salah seorang di antara pimpinan setelah sejenak berbasa-basi.

“Kamu kan belum berkeluarga, selain tidak terlalu menjadi beban pemikiran. Mudah-mudahan dapat akhwat Libanon,” aku tak tahu suara siapa ini.

“Hua ha ha.”

Mulutku membentuk huruf O. Seterusnya aku tak tahu lagi apa yang mereka ucapkan. Meski mereka nyerocos bak senapan otomatis. Aku merasa rohku sudah melayang-layang. Kaki ku sudah tak menapak lagi. Tapi, yang jelas Anto orang terakhir yang menyalami ku pada pertemuan itu. Itu saja yang kuingat.

Ketika dua bola mata Anto beradu dengan mataku, aku seperti melihat moncong tank Israel tepat berada di jidatku!

Sunday, September 10, 2006

Desas dan Desus (cerpen)

Desas desus, isu, gosip atau kabar burung, sekarang ini sudah jadi makanan sehari-hari rakyat Indonesia. Porsinya kian hari kian bertambah saja. Siapa pun pasti tidak kan menyangkal itu. Coba aja baca koran atau majalah, isinya nggak lain cuma isu. Katanya koran itu punya satu pihak yang menyuarakan kepentingan pihak yang ngasih modal. Jadi independen itu maksudnya menyuarakan kepentingan yang diyakininya. Stasiun TV maiah lebih dahsyat lagi, terang-terangan nyetel acara yang isinya gosip macam cek dan ricek.

Desas desus atau isu tidak hanya melanda jagad politik Indonesia. Desas-desus juga melanda, mewabah di sekolahku. Mulai dari Pak Herman yang diisukan cari tambahan dengan mewajibkan les bagi anak didiknya (katanya soal-soal ulangan sudah diketahui teman-teman yang ikut les). Kepsek yang diisukan akan dipindahkan. Sampai Pak Mitro, guru agama yang dikabarkan nikah lagi. Kalau cuma gosip, ada temen cewek naksir cowok. Wah itu man hampir tiap jam, deh.

Yang namanya kabar angin, mesti sifatnya pun tidak lebih dari angin, cepat hilang alias gampang kabur. Aku dan beberapa ternanku menikmati hal ini sebagai hiburan belaka, tidak lebih. Karena aku menganggap ini permainan. Kunikmati setiap berita yang ada dengan enteng-enteng saja. Seperti kata Gus Dur, "Gitu aja repot-repot amat."

Saking asyiknya menikmati isu itu, sekarang justru aku malah terlibat juga
ikut-ikutan menyebarkan isu. Bahkan beberapa kali aku mencipta isu. Dan tergolong sukses.

Ada kepuasan tersendiri ketika aku melihat ekspresi teman yang tengah dikerjain. Misalnya saja, ketika rame-rame di kantin kita ngegombal tentang si Tuti yang dikabarkan pacaran sama Bowo. Padahal jelas itu impossible banget. Selain Tuti anak kelas tiga dan Bowo baru kelas satu, mereka juga nggak pernah kenal. Tapi salah sendiri kenapa masih ada aja yang mau digombalin. Wah begitu hadirin di hadapanku ini tahu bahwa hal itu cuma isu, wajah yang tadinya serius jadi melongo kagak karuan.

Entah siapa yang memulai. Pernah juga ada isu Pak Eko, guru kimia itu menjalin hubungan sama Tanti yang jagoan kimia. Wah kontan aja Tanti jadi uring-uringan dan nafsu belajarnya jadi berkurang drastis.

Lebih sadisnya lagi, adanya isu, katanya sekolah tempatku menimba ilmu ini mau digusur. Kabarnya sekolah ini dibangun di jaman Orba dengan mengambil paksa bahasa halusnya ganti rugi. Jadi dengan adanya reformasi, penduduk yang tadi dirugikan itu menuntut tanahnya kembali mereka protes minta ganti untung. Wah ini jelas bikinan orang kurang waras. Tapi herannya, isu ini termasuk kategori super sukses.

"Sekarang bumbunya malah udah nggak karuan lagi," kata Imung.

"Maksud elu" kataku sambil menatap tajam kedua bola mata Imung.

"lya, setiap gosip dibumbui. Kalo bumbunya masih pasangannya mending, meski kebanyakan."

"Pasangannya?"

"Kalo bumbu nasi goreng dicampur sama bumbu sop apa kamu suka, wuih pasti neg. Nah begitu juga gosip di sekolah kita, udah nggak sehat."

Kalau dipikir-pikir emang bener juga omongannya si Imung. Coba aja lihat kasus Tanti. Itukan bisa mempengaruhi masa depannya. Masa sih kita tega
menghancurkan masa depan teman kita sendiri?

Syukurlah, dilingkungan sekolahku ternyata ada juga yang steril dari wabah gosip. Temen-temen di Rohis ternyata punya kekebalan nggak ikut-ikutan kena epidemi. Temen-temen di Rohis menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius. Yang kalau dibiarkan akan menjadi wabah penyakit. Begitu mereka mengkhawatirkannya.

Sekarang isu itu tensinya sudah agak menurun. Atau lantaran aku akrab dengan anak-anak Rohis. Nggak tahu deh. Tapi dalam hati kecilku aku mau tobat. Aku kan klas tiga. Biar preman begini, aku punya cita-cita mulia. Kalau bisa aku mau meninggalkan sekolah dengan kesan yang baik. Sampai sekarang alhamdulillah, aku selamat dari isu yang tidak baik.

Anak-anak Rohis, memang agak lain. Aku yang memang baru aktif disana, kadang-kadang kumat juga. Suka timbul niat iseng menggoda mereka. Karena , meski aku anak baru di Rohis tapi aku kan Kelas tiga. Jadi masih ada wibawa dikit. Eh, mungkin lebih tepat disebut arogan kali ya?

Cewek-cewek di Rohis, kelihatannya kalem dan nggak serem seperti digosipkan. Mereka rata-rata kalau bicara serius meski tidak hilang keceriaannya sebagai umumnya anak-anak SMU. Cewek Rohis itu dikomandani Ani.

Setahuku, Ani ini keturunan Arab. Dia anak kelas II I PA. Katanya Ani ini kalau bicara to the point. Jadi kesannya judes. Itu kata temen-temen ku yang laki-laki. Karena itu aku malas berbicara dengan Ani. Tapi kok dia terpilih jadi ketua bagian keputrian. Berarti gosip itu batal demi hukum. O iya, satu lagi yang membuatku gentar berhadapan dengan Ani, dia itu kabarnya eh faktanya pelatih silat di sekolahku. Saudara-saudara, itulah gosip tentang Ani.

Sekarang bergaul dengan Ani, eh, dengan anak-anak Rohis aku jadi giat sekolah dan malas nongkrong di kantin. Aku jadi menyesal kenapa begitu
terlambat. Rasanya aku baru masuk Islam tadi pagi. Alhamdulillah shalatku mulai terjaga.

Tapi, tobat deh, entah darimana datangnya berita itu. Tahu-tahu aku digosipkan menjalin hubungan sama Ani.

Suatu hari di siang yang cerah dan langit tak berbintang. Ye sakit, siang hari mana ada bintang. Pulang sekolah aku tidak langsung sholat dzuhur, tapi ke kantin dulu . Ketika bertemu dengan teman-temanku yang biasa ngegosip. Timbullah isengku, aku tambahi saja sekalian isu bahwa aku pacaran sama Ani dengan sejumlah bumbu.

"Jadi elu aktif di Rohis, cuma buat ngejar Ani," tanya Bagas.

"Tebalik, dia pake jilbab itu gara-gara syarat dari gue. Kalo elu mau jadi pacar gue, musti pake jilbab dulu, begitu serius dan kutambahkan lagi bahwa aku memang sudah ditakdirkan menjadi pendampingnya, lihat saja namanya yang hampir sama. Cuma beda N dan D.

"Ah, yang boong," kata Bagas, Fahri dan Hambali serempak.

"Buktinya, tanya aja sendiri" kataku meyakinkan.

Aku puas bisa menggombali mereka. Untunglah aku tersadar karena tertawa sendirian. Sementara ketiga temanku sudah berlalu. Sungguh aku tak bisa menahan geli dihatiku ini.

Tapi kebahagiaan itu tak lama. Karena ketika aku baru selesai sholat seorang gadis berjilbab memanggilku, rupanya Nur sahabat dekat Ani. Katanya Ani ingin bicara dengan ku. Wah rupanya temanku baru saja bertemu dengan Ani. Ani marah sekali dengan kelakuanku. Habis aku diceramahi. Wibawaku sebagai klas tiga dan lelaki jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku minta maaf sejadi-jadinya. Nggak tahu deh, mukaku mau ditaruh dimana. Meski setahuku di mushollah itu hanya ada aku Ani dan Nur, tapi aku seperti merasa dieksekusi dihadapan satu sekolah. Aku tengsin berat.

Besoknya aku jadi malas berangkat hingga jam pertama lewat. Jadinya aku nongkrong di kantin lagi. Ternyata disana sudah kumpul-kumpul teman-temanku. Mereka kira-kira ada dua puluhan. Diantaranya, Bagas, Fahri dan Hambali. Kupikir ada isu baru atau ada di antaranya yang merayakan ulang tahun. Tanpa beban aku bergabung dengan mereka. Ternyata dugaan ku yang pertama tidak meleset. Tanpa komando mata mereka serempak menatapku. Mereka meminta kepastian dariku atas kebenaran sebuah berita: Hei Adi. Katanya kamu kemarin ditampar Ani, ya?

Buat seorang sahabat. salam ehm-ehm. 2000

Teruslah berjuang tanpa kebencian

"Sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lain", Hadits.